Path: Top > Electronics Clipping > PARIWISATA

Industri Perhotelan Kian Lesu

PIKIRAN RAKYAT, Jumat, 10 Maret 2006, Hal.4
Clipping from JBPTPPOLBAN / 2012-02-18 15:07:22
Oleh : (A-87), POLBAN
Dibuat : 2006-03-17, dengan 0 file

Keyword : industri perhotelan

BANDUNG, (PR: Memasuki triwulan pertama 2006, hampir 90% pengusaha hotel menghadapi masalah keuangan akibat kenaikan fixed cost dan variable cost. Beban-beban itu semakin menekan bahkan perusahaan yang sempat bertahan, sekarang mulai kepayahan.
"Untuk sekadar bertahan menjalankan perusahaan, di sektor perhotelan saat ini semakin sulit," ujar Ketua Perhimpunan Hotel dan Restaurant Indonesia (PHRI) Jawa Barat, Ries Hermawan, Kamis (9/3) di sela-sela pertemuan asosiasi pariwisata bersama jajaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat di kantor Disbudpar Jln. RE. Martadinata Bandung.

Menurut dia, industri perhotelan di Kota Bandung, bahkan di daerah yang selama ini masih bertahan, lambat laun akan mati menyusul industri-industri lainnya yang sudah duluan gulung tikar. "Kondisi ini berawal dari kebijakan pemerintah menaikkan BBM serta tarif dasar listrik serta telefon secara bersamaan pada awal tahun lalu dan diikuti kenaikan suku bunga bank," ujar Hermawan yang juga GM Hotel Endah Parahyangan itu.

Sementara, lanjutnya, tingkat hunian hotel pas-pasan sehingga hotel tidak mungkin untuk menaikkan tarif. Terlebih pada awal tahun ini, menurut Hermawan, rata-rata tingkat hunian hotel di Kota Bandung tidak lebih dar l50%.

Dikatakan Hermawan, kondisi itu diperparah dengan adanya kenaikan upah para pekerja yang tidak mungkin dielakkan. Padahal dari upah saja cost-nya mencapai 40%. Sementara pengeluaran hotel untuk listrik mencapai 60%, BBM 15% dan air 10%.

Sialnya, dalam kondisi ini, ditambahkan Hilwan, GM Hotel Panghegar, pengusaha perhotelan harus melakukan promosi lebih gencar sehingga wisatawan, baik asing maupun lokal tetap berkunjung ke tujuan wisata. Hal itu penting guna mendongkrak tingkat hunian hotel.

Dikatakannya, pada tingkatan tertentu sebenarnya pengelola hotel tetap mampu menutup biaya operasional. Tetapi, situasi sekarang pada saat terjadi kenaikan komponen energi secara serentak, hotel tidak akan tahan menanggung beban.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, Drs. H.I. Budhyana, M.Si., meminta agar pemerintah daerah membantu meringankan beban pengusaha perhotelan.***


Deskripsi Alternatif :

BANDUNG, (PR: Memasuki triwulan pertama 2006, hampir 90% pengusaha hotel menghadapi masalah keuangan akibat kenaikan fixed cost dan variable cost. Beban-beban itu semakin menekan bahkan perusahaan yang sempat bertahan, sekarang mulai kepayahan.
"Untuk sekadar bertahan menjalankan perusahaan, di sektor perhotelan saat ini semakin sulit," ujar Ketua Perhimpunan Hotel dan Restaurant Indonesia (PHRI) Jawa Barat, Ries Hermawan, Kamis (9/3) di sela-sela pertemuan asosiasi pariwisata bersama jajaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat di kantor Disbudpar Jln. RE. Martadinata Bandung.

Menurut dia, industri perhotelan di Kota Bandung, bahkan di daerah yang selama ini masih bertahan, lambat laun akan mati menyusul industri-industri lainnya yang sudah duluan gulung tikar. "Kondisi ini berawal dari kebijakan pemerintah menaikkan BBM serta tarif dasar listrik serta telefon secara bersamaan pada awal tahun lalu dan diikuti kenaikan suku bunga bank," ujar Hermawan yang juga GM Hotel Endah Parahyangan itu.

Sementara, lanjutnya, tingkat hunian hotel pas-pasan sehingga hotel tidak mungkin untuk menaikkan tarif. Terlebih pada awal tahun ini, menurut Hermawan, rata-rata tingkat hunian hotel di Kota Bandung tidak lebih dar l50%.

Dikatakan Hermawan, kondisi itu diperparah dengan adanya kenaikan upah para pekerja yang tidak mungkin dielakkan. Padahal dari upah saja cost-nya mencapai 40%. Sementara pengeluaran hotel untuk listrik mencapai 60%, BBM 15% dan air 10%.

Sialnya, dalam kondisi ini, ditambahkan Hilwan, GM Hotel Panghegar, pengusaha perhotelan harus melakukan promosi lebih gencar sehingga wisatawan, baik asing maupun lokal tetap berkunjung ke tujuan wisata. Hal itu penting guna mendongkrak tingkat hunian hotel.

Dikatakannya, pada tingkatan tertentu sebenarnya pengelola hotel tetap mampu menutup biaya operasional. Tetapi, situasi sekarang pada saat terjadi kenaikan komponen energi secara serentak, hotel tidak akan tahan menanggung beban.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Barat, Drs. H.I. Budhyana, M.Si., meminta agar pemerintah daerah membantu meringankan beban pengusaha perhotelan.***



Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTPPOLBAN
OrganisasiPOLBAN
Nama KontakHelmi Purwanti
AlamatJl. Trsn. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon022 201 3789 ext. 168, 169, 239
Fax022 201 3889
E-mail Administratorhelmi.purwanti@polban.ac.id
E-mail CKOhelmi.purwanti@polban.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Editor: