Path: Top > Electronics Clipping > PARIWISATA

Pamor Kota Wisata Merosot, Tingkat Hunian Hotel di Bandung Cenderung Menurun

KOMPAS, Rabu, 31 Mei 2006, Hal.B
Clipping from JBPTPPOLBAN / 2012-02-18 15:07:27
Oleh : (BAY/THT), POLBAN
Dibuat : 2006-06-02, dengan 0 file

Keyword : Kota Bandung, sampah, kota wisata

BANDUNG, KOMPAS : Sampah yang menggunung di sejumlah titik di Kota Bandung beberapa saat lalu menurunkan pamor Bandung sebagai kota wisata. Jika masalah sampah tidak ditangani serius, akan berakibat pada merosotnya jumlah wisatawan yang dating ke Bandung.

Ketua perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Bandung Eddy Rahmat mengatakan, tumpukan sampah telah merusak pemandangan kota, baunya yang busuk mengganggu penciuman orang yang melintasinya. Akibatnya, jumlah wisatawan ke Bandung berkurang.

Hal ini, kata Eddy, bisa dilihat dari jumlah pemesanan kamar pada libur panjang akhir pekan di bulan Mei yang turun sekitar 10 persen. "Biasanya saat long weekend, kamar yang terpesan 90-95 persen. Liburan kemarin hanya 80 persen," ujar Eddy.

Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (Asita) Jawa Barat Herman Rukmanadi mengatakan, bila tidak dibersihkan, sampah akan menjadi ancaman usaha pariwisata. Kebersihan salah satu faktor utama bagi wisatawan untuk singgah.
"Tolong dibersihkan segera. Bagi wisawatan domestik maupun asing, hal terpenting, kenyamanan dan keamanan," kata Herman. Apalagi, Kota Bandung terkenal dengan berbagai makanan enak, tentu membuat wisatawan tak berselera jika menghirup bau sampah.


Repot menjelaskan


Tumpukan sampah yang terdapat di berbagai jalur utama menuju lokasi wisata, seperti Jalan Ganesha dan Cibaduyut, kata Herman, merepotkan pemandu wisata. Mereka harus memberi alasan sekaligus menghindari jalan yang terdapat tumpukan sampah.
"Masa, mengurus sampah saja tidak bisa. Ini memengaruhi citra pariwisata," kata Herman.

Menurut Sutyastie Soemitro, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, lambatnya pengelolaan sampah oleh pemerintah daerah berakibat langsung ke masalah pariwisata. Masalah sampah itu makin kompleks ketika turun hujan, yang mengakibatkan air lindi menggenangi jalan dengan bau yang tidak sedap.

Kerugian terbesar, tambah Sutyastie, dirasakan warung-warung makanan yang lokasinya berdekatan dengan tempat pembuangan sementara. Sebagian besar orang merasa enggan membeli makanan di tempat yang sekiranya bau sampah.
"Bau sampah itu akan tercium jika angin bertiup, sehingga kota ini tidak nyaman bagi wisatawan. Kalau tidak segera diatasi, Bandung akan segera kehilangan citranya sebagai kota wisata," kata Sutyastie.


Pengelolaan sampah


Manajer Humas Grand Preanger Saepudin meminta Pemerintah Kota Bandung segera mengatasi permasalahan sampah.

Pasalnya, sampah yang menumpuk dan tidak terurus bakal mengganggu selera wisatawan yang datang untuk berlibur dan berbelanja. Harapannya, agar citra Bandung sebagai kota kembang tidak berubah menjadi kota sampah.

Oleh karena itu, Eddy menambahkan, pihak perhotelan mulai bekerja sama dengan Dinas Kebersihan Kota Bandung untuk mengatasi sampah.

Langkah yang dilakukan antara lain dengan memisahkan sampah organik, basah, dan kering. Dengan cara itu, sampah tersebut bisa didaur ulang menjadi produk lain, mengingat produksi sampah perhotelan jumlahnya sangat besar saat akhir pecan, atau ketika digelar acara-acara perkawinan.***

Deskripsi Alternatif :

BANDUNG, KOMPAS : Sampah yang menggunung di sejumlah titik di Kota Bandung beberapa saat lalu menurunkan pamor Bandung sebagai kota wisata. Jika masalah sampah tidak ditangani serius, akan berakibat pada merosotnya jumlah wisatawan yang dating ke Bandung.

Ketua perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Bandung Eddy Rahmat mengatakan, tumpukan sampah telah merusak pemandangan kota, baunya yang busuk mengganggu penciuman orang yang melintasinya. Akibatnya, jumlah wisatawan ke Bandung berkurang.

Hal ini, kata Eddy, bisa dilihat dari jumlah pemesanan kamar pada libur panjang akhir pekan di bulan Mei yang turun sekitar 10 persen. "Biasanya saat long weekend, kamar yang terpesan 90-95 persen. Liburan kemarin hanya 80 persen," ujar Eddy.

Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Indonesia (Asita) Jawa Barat Herman Rukmanadi mengatakan, bila tidak dibersihkan, sampah akan menjadi ancaman usaha pariwisata. Kebersihan salah satu faktor utama bagi wisatawan untuk singgah.
"Tolong dibersihkan segera. Bagi wisawatan domestik maupun asing, hal terpenting, kenyamanan dan keamanan," kata Herman. Apalagi, Kota Bandung terkenal dengan berbagai makanan enak, tentu membuat wisatawan tak berselera jika menghirup bau sampah.


Repot menjelaskan


Tumpukan sampah yang terdapat di berbagai jalur utama menuju lokasi wisata, seperti Jalan Ganesha dan Cibaduyut, kata Herman, merepotkan pemandu wisata. Mereka harus memberi alasan sekaligus menghindari jalan yang terdapat tumpukan sampah.
"Masa, mengurus sampah saja tidak bisa. Ini memengaruhi citra pariwisata," kata Herman.

Menurut Sutyastie Soemitro, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, lambatnya pengelolaan sampah oleh pemerintah daerah berakibat langsung ke masalah pariwisata. Masalah sampah itu makin kompleks ketika turun hujan, yang mengakibatkan air lindi menggenangi jalan dengan bau yang tidak sedap.

Kerugian terbesar, tambah Sutyastie, dirasakan warung-warung makanan yang lokasinya berdekatan dengan tempat pembuangan sementara. Sebagian besar orang merasa enggan membeli makanan di tempat yang sekiranya bau sampah.
"Bau sampah itu akan tercium jika angin bertiup, sehingga kota ini tidak nyaman bagi wisatawan. Kalau tidak segera diatasi, Bandung akan segera kehilangan citranya sebagai kota wisata," kata Sutyastie.


Pengelolaan sampah


Manajer Humas Grand Preanger Saepudin meminta Pemerintah Kota Bandung segera mengatasi permasalahan sampah.

Pasalnya, sampah yang menumpuk dan tidak terurus bakal mengganggu selera wisatawan yang datang untuk berlibur dan berbelanja. Harapannya, agar citra Bandung sebagai kota kembang tidak berubah menjadi kota sampah.

Oleh karena itu, Eddy menambahkan, pihak perhotelan mulai bekerja sama dengan Dinas Kebersihan Kota Bandung untuk mengatasi sampah.

Langkah yang dilakukan antara lain dengan memisahkan sampah organik, basah, dan kering. Dengan cara itu, sampah tersebut bisa didaur ulang menjadi produk lain, mengingat produksi sampah perhotelan jumlahnya sangat besar saat akhir pecan, atau ketika digelar acara-acara perkawinan.***

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTPPOLBAN
OrganisasiPOLBAN
Nama KontakHelmi Purwanti
AlamatJl. Trsn. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon022 201 3789 ext. 168, 169, 239
Fax022 201 3889
E-mail Administratorhelmi.purwanti@polban.ac.id
E-mail CKOhelmi.purwanti@polban.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Editor: