Path: Top > Electronics Clipping > ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI > TEKNIK SIPIL

Ruas Palangkaraya-Buntok Terhambat Sungai

KOMPAS, Selasa, 28 Maret 2006, Hal.24
Clipping from JBPTPPOLBAN / 2013-12-16 14:03:51
Oleh : (CAS) , POLBAN
Dibuat : 2006-04-03, dengan 0 file

Keyword : pembangunan jembatan, Palangkaraya-Buntok

BARITO SELATAN, KOMPAS : Jalan penghubung Palangkaraya dengan Buntok, ibukota Kabupaten Barito Selatan, masih putus di empat sungai yang pembangunan jembatannya belum selesai.



Untuk menyeberangi sungai, masyarakat mengeluarkan ongkos kapal penyeberangan puluhan, hingga ratusan ribu rupiah. Karena harus menunggu kapal tiba, perjalanan yang seharusnya dapat ditempuh sekitar 2,5 jam mulur menjadi empat jam.



Senin (27/3), Kompas mendatangi empat sungai yang belum terhubung jembatan tersebut, yaitu Sungai Barito, Kapuas, Murui, dan Mangkutup.



Tarif sekali menyeberang di Sungai Kapuas, Muroi, dan Mangkutup rata-rata Rp 15.000 untuk sepeda motor dan Rp 50.000 untuk mobil.



Khusus untuk penyeberangan di Sungai Barito, pengelola kapal penyeberangan mematok harga Rp 100.000 hingga Rp 200.000 untuk mobil. Negosiasi harga sering harus dilakukan warga dengan awak kapal.
"Dengan melintasi ruas Palangkaraya-Buntok ini warga ingin menghemat dibanding memutar lewat Kalimantan Selatan (Kalsel). Karena jembatan belum rampung, jatuhnya mahal juga," kata Guan, warga setempat.



Sebagai gambaran, ada cara lain menuju Buntok dari Palangkaraya. Rute alternatif itu melambung lewat Banjarmasin, Kalsel, dengan ongkos bus sekitar Rp 90.000 per orang dan menempuh jarak sekitar 700 kilometer selama sekitar 13 jam.



Padahal, jarak Palangkaraya-Buntok 200 km dan dapat ditempuh dalam waktu 2,5 jam apabila jalan telah diaspal seluruhnya dan jembatan yang melintasi sungai rampung.



Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kalteng Ober Gultom menuturkan, percepatan pembangunan jalan Palangkaraya-Buntok, termasuk jembatan, di ruas tersebut merupakan prioritas.



Dalam pertemuan dengan Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang, perwakilan direksi PT Bumi Asri Pahaman, Agus Salim, mengharapkan pembangunan jalan dan jembatan di ruas Palangkaraya-Buntok cepat selesai.



Saat ini masih banyak petani di Kalteng memilirkan getah sadapan karet dari kebun melalui sungai. Ini akibat akses jalan darat minim sehingga menimbulkan biaya angkutan yang tinggi.***

Deskripsi Alternatif :

BARITO SELATAN, KOMPAS : Jalan penghubung Palangkaraya dengan Buntok, ibukota Kabupaten Barito Selatan, masih putus di empat sungai yang pembangunan jembatannya belum selesai.



Untuk menyeberangi sungai, masyarakat mengeluarkan ongkos kapal penyeberangan puluhan, hingga ratusan ribu rupiah. Karena harus menunggu kapal tiba, perjalanan yang seharusnya dapat ditempuh sekitar 2,5 jam mulur menjadi empat jam.



Senin (27/3), Kompas mendatangi empat sungai yang belum terhubung jembatan tersebut, yaitu Sungai Barito, Kapuas, Murui, dan Mangkutup.



Tarif sekali menyeberang di Sungai Kapuas, Muroi, dan Mangkutup rata-rata Rp 15.000 untuk sepeda motor dan Rp 50.000 untuk mobil.



Khusus untuk penyeberangan di Sungai Barito, pengelola kapal penyeberangan mematok harga Rp 100.000 hingga Rp 200.000 untuk mobil. Negosiasi harga sering harus dilakukan warga dengan awak kapal.
"Dengan melintasi ruas Palangkaraya-Buntok ini warga ingin menghemat dibanding memutar lewat Kalimantan Selatan (Kalsel). Karena jembatan belum rampung, jatuhnya mahal juga," kata Guan, warga setempat.



Sebagai gambaran, ada cara lain menuju Buntok dari Palangkaraya. Rute alternatif itu melambung lewat Banjarmasin, Kalsel, dengan ongkos bus sekitar Rp 90.000 per orang dan menempuh jarak sekitar 700 kilometer selama sekitar 13 jam.



Padahal, jarak Palangkaraya-Buntok 200 km dan dapat ditempuh dalam waktu 2,5 jam apabila jalan telah diaspal seluruhnya dan jembatan yang melintasi sungai rampung.



Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kalteng Ober Gultom menuturkan, percepatan pembangunan jalan Palangkaraya-Buntok, termasuk jembatan, di ruas tersebut merupakan prioritas.



Dalam pertemuan dengan Gubernur Kalteng Agustin Teras Narang, perwakilan direksi PT Bumi Asri Pahaman, Agus Salim, mengharapkan pembangunan jalan dan jembatan di ruas Palangkaraya-Buntok cepat selesai.



Saat ini masih banyak petani di Kalteng memilirkan getah sadapan karet dari kebun melalui sungai. Ini akibat akses jalan darat minim sehingga menimbulkan biaya angkutan yang tinggi.***

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTPPOLBAN
OrganisasiPOLBAN
Nama KontakHelmi Purwanti
AlamatJl. Trsn. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon022 201 3789 ext. 168, 169, 239
Fax022 201 3889
E-mail Administratorhelmi.purwanti@polban.ac.id
E-mail CKOhelmi.purwanti@polban.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Editor: