Path: Top > Electronics Clipping > ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI > ELEKTRONIKA, TELEKOMUNIKASI & LISTRIK

Bagaimana Memilih Televisi Agar Tak Tertipu

BISNIS INDONESIA, Sabtu, 25 Maret 2006, Hal.1
Clipping from JBPTPPOLBAN / 2013-12-16 14:01:28
Oleh : Chamdan Purwoko , POLBAN
Dibuat : 2006-03-28, dengan 0 file

Keyword : tabung CRT, TV rekondisi, komponen bekas

Saat ini, beredar luas di pasaran produk televisi (TV) kanibal berbagai ukuran yang harganya begitu murah. Disebut TV kanibal karena produk ini dibuat dengan mengambil komponen bekas dari berbagai merek.



Sebagai contoh, tabung gambarnya (catoda ray tube/CRT) dibuat menggunakan barang produksi NEC Corporation, Jepang. Ada juga yang dibuat oleh Matshusita atau LG.



Ketiga perusahaan itu memang memproduksi tabung gambar untuk dijual ke pabrik-pabrik TV, di samping juga untuk diproduksi sendiri menjadi TV.



Sedangkan deflection yooke, yang terletak di belakang CRT atau biasa disebut konde--dinamai konde karena menyerupai sanggul yang biasa dipakai wanita Jawa--menggunakan buatan perusahaan lain.



Tapi semua komponen tadi seluruhnya adalah bekas. Kondisi bekas ini terlihat dari label pada CRT yang sudah kumal dan kadang tidak bisa terbaca lagi nomor kode produksinya. Malahan ada TV kanibal dengan menggunakan CRT yang sama sekali tidak terdapat label nama pabrik pembuatnya.



Sedangkan rangkaian elektroniknya yakni printed circuit board (PCB) dibuat sendiri, karena memang mudah membuatnya. Semua bengkel reparasi elektronik di pinggir jalan pun bisa membuat rangkaian printed circuit board (PCB) untuk TV.



Semua komponen tadi selanjutnya dirangkai menjadi satu dan dibungkus casing baru dengan dibubuhi nama merek tertentu sesuka pembuatnya. Dengan menggunakan komponen CRT dan konde bekas, maka harga TV kanibal ukuran 14 inci bisa dijual di bawah Rp 800.000 dan sekitar Rp 860.000 untuk ukuran 17 inci.



Padahal untuk ukuran yang sama, TV dengan merek yang sudah dikenal luas pasar, harganya bisa 30% hingga 40% lebih mahal. Harga TV kanibal bisa sedemikian murah karena harga CRT sendiri mencakup hampir 70% dari total biaya produksi sebuah TV.




TV rekondisi




TV kanibal ini berbeda sama sekali dengan TV rekondisi yang di pasaran sering disebut sebagai TV bekas. TV rekondisi merupakan TV dengan merek yang sudah dikenal pasar, namun kondisinya masih baik sekitar 70%-80%.



Agar telihat lebih menarik, TV ini dipoles pada bagian luarnya dengan memakai cairan pembersih, sehingga terlihat lebih kinclong. Sementara pada beberapa komponen kecil yang terdapat pada rangkaian PCB atau kabel, yang memang sudah tidak layak, terpaksa diganti dengan yang baru. Inilah yang disebut sebagai TV rekondisi atau TV bekas.



Sama seperti halnya di industri otomotif, di Indonesia banyak dijual kendaraan hasil rekondisi. Kendaraan ini umumnya diimpor dalam kondisi masih baik sekitar 80% untuk selanjutnya dilakukan perbaikan dan pemolesan seperlunya, sebelum dijual.



Di industri ini, bahkan ada perusahaan yang menyebut dirinya sebagai usaha rekondisi. Mereka menjual mobil bekas dengan merek sesuai aslinya, namun telah direkondisi. Usaha rekondisi dan perdagangan produk rekondisi sejauh ini tidaklah dilarang, termasuk menjual TV rekondisi.



Kembali ke soal TV rekondisi tadi, peredaran TV ini relatif terbatas pada tukang reparasi atau toko tertentu. Tapi toko tersebut pun secara eksplisit menyatakan diri sebagai toko TV bekas yang di dalamnya menjual TV yang sudah direkondisi (ditingkatkan kondisinya).



Karena itu, para pembeli TV rekondisi (bekas) biasanya tidak akan merasa tertipu jika barang yang dibelinya mendadak rusak, sebab ketika membeli dia telah menyadari bahwa produk tersebut adalah bekas dan tentu saja tidak memiliki kartu garansi.



Ini berbeda, jika Anda membeli TV kanibal. Di sini penjual sudah pasti akan mengklaim barang tersebut adalah baru. Penjual juga tidak lupa akan menyertakan kartu garansi dan buku manual sebagai tanda bahwa barang tersebut adalah baru.



Namun, ketika TV yang belum lama dibelinya itu rusak, maka pembeli sudah pasti akan merasa tertipu. Apalagi pada saat menghubungi pusat layanan servis yang tertera. pada kartu garansi, ternyata nomor telepon tersebut adalah milik sebuah yayasan atau bahkan dijawab oleh mesin penjawab Telkom: "Nomor yang Anda hubungi belum terpasang".



Pembeli baru akan menyadari bahwa TV tersebut adalah TV kanibal setelah membawanya ke bengkel reparasi, yang ternyata diketahui komponen di dalamnya menggunakan barang bekas. Adanya TV kanibal dan penggunaan alamat dan nomor telepon palsu pada kartu garansi, dibuktikan oleh sejumlah wartawan bersama para teknisi Gabungan Elektronika (Gabel) baru-baru ini.



Mereka membeli TV baru merek Saab dan Founder di sebuah toko. Saat dibeli barang itu masih dalam kondisi disegel pada baut dan kardusnya. Tentu saja kartu garansi dan buku manualnya juga disertakan. Tapi setelah dibuka casing-nya, ternyata komponen di dalamnya adalah bekas.



Sebagai konsumen, tentunya Anda tidak mungkin meminta pelayan toko untuk memperlihatkan komponen di dalamnya pada saat hendak membeli TV baru. Apalagi Anda juga tidak paham dengan ilmu elektronika.



Lantas bagaimana agar Anda tidak tertipu saat membeli TV baru? Bisakah konsumen mendeteksi TV kanibal dengan hanya melihat dari luarnya?



Pertama, Anda patut curiga jika harga TV yang ditawarkan sangat murah 30% hingga 40% dibanding merek lain yang sudah Anda kenal. Apalagi TV yang akan dibeli adalah merek yang tidak pernah Anda dengar. Lazimnya, selisih harga antar merek hanya sekitar 2% - 3% tergantung tingkat efisiensi produksi di pabrik pembuatnya.



Kedua, jangan segan-segan mencoba menelpon nomor yang tercantum pada kartu garansi atau buku petunjuk penggunaan (manual).



Ketiga, lihatlah seksama kondisi layar TV. Dalam kondisi off, seharusnya layar TV terlihat berwarna abu-abu dengan terdapat garis-garis kecil (tidakpolos).



Jika Anda mendapati TV dengan layar abu-abu tapi terlihat bersih tanpa ada garis-garis (polos), maka dipastikan itu adalah TV kanibal yang menggunakan CRT bekas monitor komputer.



Secara teknis, resolusi layar pada CRT monitor komputer lebih tinggi dibandingkan CRT untuk TV. Tapi jika CRT monitor disambungkan dengan rangkaian PCB TV, maka hal itu akan menjadi berbahaya dan bisa membuatnya meledak.



Keempat, pada setiap produk TV baru yang dibuat sesuai standar keamanan produk elektronik yakni International Electrical Commission (lEC) 60065, pada bagian belakang casing selalu tertera stiker yang mencantumkan a.l. merek, nama dan alamat perusahaan pembuatnya secara jelas, nomor seri serta kode produksinya. Jika tidak terdapat label dengan informasi yang lengkap, maka patut dicurigai produk tersebut adalah TV kanibal.



Jadi, teliti sebelum membeli dan jangan tergiur barang murah!!***

Deskripsi Alternatif :

Saat ini, beredar luas di pasaran produk televisi (TV) kanibal berbagai ukuran yang harganya begitu murah. Disebut TV kanibal karena produk ini dibuat dengan mengambil komponen bekas dari berbagai merek.



Sebagai contoh, tabung gambarnya (catoda ray tube/CRT) dibuat menggunakan barang produksi NEC Corporation, Jepang. Ada juga yang dibuat oleh Matshusita atau LG.



Ketiga perusahaan itu memang memproduksi tabung gambar untuk dijual ke pabrik-pabrik TV, di samping juga untuk diproduksi sendiri menjadi TV.



Sedangkan deflection yooke, yang terletak di belakang CRT atau biasa disebut konde--dinamai konde karena menyerupai sanggul yang biasa dipakai wanita Jawa--menggunakan buatan perusahaan lain.



Tapi semua komponen tadi seluruhnya adalah bekas. Kondisi bekas ini terlihat dari label pada CRT yang sudah kumal dan kadang tidak bisa terbaca lagi nomor kode produksinya. Malahan ada TV kanibal dengan menggunakan CRT yang sama sekali tidak terdapat label nama pabrik pembuatnya.



Sedangkan rangkaian elektroniknya yakni printed circuit board (PCB) dibuat sendiri, karena memang mudah membuatnya. Semua bengkel reparasi elektronik di pinggir jalan pun bisa membuat rangkaian printed circuit board (PCB) untuk TV.



Semua komponen tadi selanjutnya dirangkai menjadi satu dan dibungkus casing baru dengan dibubuhi nama merek tertentu sesuka pembuatnya. Dengan menggunakan komponen CRT dan konde bekas, maka harga TV kanibal ukuran 14 inci bisa dijual di bawah Rp 800.000 dan sekitar Rp 860.000 untuk ukuran 17 inci.



Padahal untuk ukuran yang sama, TV dengan merek yang sudah dikenal luas pasar, harganya bisa 30% hingga 40% lebih mahal. Harga TV kanibal bisa sedemikian murah karena harga CRT sendiri mencakup hampir 70% dari total biaya produksi sebuah TV.




TV rekondisi




TV kanibal ini berbeda sama sekali dengan TV rekondisi yang di pasaran sering disebut sebagai TV bekas. TV rekondisi merupakan TV dengan merek yang sudah dikenal pasar, namun kondisinya masih baik sekitar 70%-80%.



Agar telihat lebih menarik, TV ini dipoles pada bagian luarnya dengan memakai cairan pembersih, sehingga terlihat lebih kinclong. Sementara pada beberapa komponen kecil yang terdapat pada rangkaian PCB atau kabel, yang memang sudah tidak layak, terpaksa diganti dengan yang baru. Inilah yang disebut sebagai TV rekondisi atau TV bekas.



Sama seperti halnya di industri otomotif, di Indonesia banyak dijual kendaraan hasil rekondisi. Kendaraan ini umumnya diimpor dalam kondisi masih baik sekitar 80% untuk selanjutnya dilakukan perbaikan dan pemolesan seperlunya, sebelum dijual.



Di industri ini, bahkan ada perusahaan yang menyebut dirinya sebagai usaha rekondisi. Mereka menjual mobil bekas dengan merek sesuai aslinya, namun telah direkondisi. Usaha rekondisi dan perdagangan produk rekondisi sejauh ini tidaklah dilarang, termasuk menjual TV rekondisi.



Kembali ke soal TV rekondisi tadi, peredaran TV ini relatif terbatas pada tukang reparasi atau toko tertentu. Tapi toko tersebut pun secara eksplisit menyatakan diri sebagai toko TV bekas yang di dalamnya menjual TV yang sudah direkondisi (ditingkatkan kondisinya).



Karena itu, para pembeli TV rekondisi (bekas) biasanya tidak akan merasa tertipu jika barang yang dibelinya mendadak rusak, sebab ketika membeli dia telah menyadari bahwa produk tersebut adalah bekas dan tentu saja tidak memiliki kartu garansi.



Ini berbeda, jika Anda membeli TV kanibal. Di sini penjual sudah pasti akan mengklaim barang tersebut adalah baru. Penjual juga tidak lupa akan menyertakan kartu garansi dan buku manual sebagai tanda bahwa barang tersebut adalah baru.



Namun, ketika TV yang belum lama dibelinya itu rusak, maka pembeli sudah pasti akan merasa tertipu. Apalagi pada saat menghubungi pusat layanan servis yang tertera. pada kartu garansi, ternyata nomor telepon tersebut adalah milik sebuah yayasan atau bahkan dijawab oleh mesin penjawab Telkom: "Nomor yang Anda hubungi belum terpasang".



Pembeli baru akan menyadari bahwa TV tersebut adalah TV kanibal setelah membawanya ke bengkel reparasi, yang ternyata diketahui komponen di dalamnya menggunakan barang bekas. Adanya TV kanibal dan penggunaan alamat dan nomor telepon palsu pada kartu garansi, dibuktikan oleh sejumlah wartawan bersama para teknisi Gabungan Elektronika (Gabel) baru-baru ini.



Mereka membeli TV baru merek Saab dan Founder di sebuah toko. Saat dibeli barang itu masih dalam kondisi disegel pada baut dan kardusnya. Tentu saja kartu garansi dan buku manualnya juga disertakan. Tapi setelah dibuka casing-nya, ternyata komponen di dalamnya adalah bekas.



Sebagai konsumen, tentunya Anda tidak mungkin meminta pelayan toko untuk memperlihatkan komponen di dalamnya pada saat hendak membeli TV baru. Apalagi Anda juga tidak paham dengan ilmu elektronika.



Lantas bagaimana agar Anda tidak tertipu saat membeli TV baru? Bisakah konsumen mendeteksi TV kanibal dengan hanya melihat dari luarnya?



Pertama, Anda patut curiga jika harga TV yang ditawarkan sangat murah 30% hingga 40% dibanding merek lain yang sudah Anda kenal. Apalagi TV yang akan dibeli adalah merek yang tidak pernah Anda dengar. Lazimnya, selisih harga antar merek hanya sekitar 2% - 3% tergantung tingkat efisiensi produksi di pabrik pembuatnya.



Kedua, jangan segan-segan mencoba menelpon nomor yang tercantum pada kartu garansi atau buku petunjuk penggunaan (manual).



Ketiga, lihatlah seksama kondisi layar TV. Dalam kondisi off, seharusnya layar TV terlihat berwarna abu-abu dengan terdapat garis-garis kecil (tidakpolos).



Jika Anda mendapati TV dengan layar abu-abu tapi terlihat bersih tanpa ada garis-garis (polos), maka dipastikan itu adalah TV kanibal yang menggunakan CRT bekas monitor komputer.



Secara teknis, resolusi layar pada CRT monitor komputer lebih tinggi dibandingkan CRT untuk TV. Tapi jika CRT monitor disambungkan dengan rangkaian PCB TV, maka hal itu akan menjadi berbahaya dan bisa membuatnya meledak.



Keempat, pada setiap produk TV baru yang dibuat sesuai standar keamanan produk elektronik yakni International Electrical Commission (lEC) 60065, pada bagian belakang casing selalu tertera stiker yang mencantumkan a.l. merek, nama dan alamat perusahaan pembuatnya secara jelas, nomor seri serta kode produksinya. Jika tidak terdapat label dengan informasi yang lengkap, maka patut dicurigai produk tersebut adalah TV kanibal.



Jadi, teliti sebelum membeli dan jangan tergiur barang murah!!***

Beri Komentar ?#(6) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTPPOLBAN
OrganisasiPOLBAN
Nama KontakHelmi Purwanti
AlamatJl. Trsn. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon022 201 3789 ext. 168, 169, 239
Fax022 201 3889
E-mail Administratorhelmi.purwanti@polban.ac.id
E-mail CKOhelmi.purwanti@polban.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Editor: