Path: Top > Electronics Clipping > PARIWISATA

Pariwisata Terganjal Adat Minim Fasilitas dan Infrastruktur

KOMPAS, Senin, 13 Maret 2006, Hal.F
Clipping from JBPTPPOLBAN / 2012-02-18 15:07:22
Oleh : (D1O), POLBAN
Dibuat : 2006-03-17, dengan 0 file

Keyword : Tasikmalaya, Kampung Naga, Pamijahan

TASIKMALAYA, KOMPAS - Pengembangan pariwisata budaya di Tasikmalaya, khususnya di Kampung Naga, selama ini terganjal aturan adat setempat. Kampung Naga sebagai aset wisata justru terhadang oleh warganya sendiri yang menolak diperlakukan sebagai obyek wisata.
"Kampung Naga merupakan daya tarik wisata unggulan di Kabupaten Tasikmalaya. Meski hanya menyumbangkan PAD kecil, namun keberadaannya justru penting untuk menyedot wisatawan mancanegara. Keunikan adat dan budayalah yang dicari. Keunikan seperti ini tidak ditemukan di daerah lainnya," ujar Kepala Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya, Safari Agustin, Minggu (12/3).

Namun, seperti yang diakui Safari, pengembangan pariwisata khususnya di Kampung Naga selama ini telah berjalan stagnan. Persoalannya, keterikatan warga Naga terhadap aturan adat sangatlah kuat.

Alasan menjaga kelestarian dan kemurnian kawasan adat mengakibatkan berbagai rencana Pemkab Tasikmalaya untuk menggenjot kunjungan wisata melalui peningkatan fasilitas dan infrastruktur selalu ditolak warga Naga.

Pada tahun 2002, Pemkab Tasikmalaya pernah melakukan feasibility studies untuk mengembangkan fasilitas di areal parkir Kampung Naga. Dalam site plan yang diterima Kompas, pengembangan itu meliputi pembuatan gapura, pengerasan landasan dan saung parkir, dan menata ulang bangunan toko cendera mata. Namun, keinginan tersebut tidak pernah terealisasi hingga kini.

Berdasarkan hasil kesepakatan Pemkab Tasikmalaya dan kuncen (tetua) Kampung Naga, status Kampung Naga secara redaksional telah diubah, bukan lagi sebagai obyek wisata melainkan "Saung Budaya".

Konselinensinya, berbagai kebijakan pariwisata, termasuk untuk menggenjot pendapatan asli daerah (PAD), tidak lagi berlaku di Kampung Naga. "Tidak masalah target pemasukan tidak tercapai. Yang terpenting, pengunjung akan kembali datang. Syukur, kalau bisa lebih ramai sehingga target pemasukan akan bisa terpenuhi dengan sendirinya," ungkapnya.

Secara terpisah, kuncen Kampung Naga Ade Suherlin menegaskan, pihaknya tetap konsisten menolak anggapan bahwa Kampung Naga merupakan obyek wisata.
"Pemerintah harus mengerti, adat itu bukan milik pemerintah, melainkan milik keturunan warga Naga. Hal ini sama dengan prinsip agama milik umat yang tidak bisa diganggu gugat," tutur Ade.


Minim


Berdasarkan data Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya, pada tahun 2005 kemarin, jumlah kunjungan wisatawan ke Kampung Naga mencapai hampir 10.000 orang. Dari jumlah tersebut, 200 di antaranya merupakan wisatawan mancanegara dari Eropa dan Amerika.

Dalam daftar peringkat pemasukan pariwisata terbanyak, Kampung Naga terlempar dari posisi lima besar. Selama tahun 2005 kemarin, pemasukan yang didapat dari Kampung Naga hanyalah sebesar Rp 10 juta. jumlah tersebut jauh lebih rendah dari pemasukan obyek wisata panorama Gunung Galunggung(Rp 160juta) dan obyek wisata religius Pamijahan (Rp 156 juta).

Selain faktor aturan adat, layaknya di daerah lainnya, kendala pengembangan potensi wisata di Tasikmalaya secara umum ada pada minimnya fasilitas dan infrastruktur penunjang seperti jalan raya dan hotel penginapan.

Ini terlihat dari tidak adanya penginapan di Galunggung dan Pamijahan. Hal yang sama juga terlihat dari buruknya kondisi jalan ke Galunggung.***

Deskripsi Alternatif :

TASIKMALAYA, KOMPAS - Pengembangan pariwisata budaya di Tasikmalaya, khususnya di Kampung Naga, selama ini terganjal aturan adat setempat. Kampung Naga sebagai aset wisata justru terhadang oleh warganya sendiri yang menolak diperlakukan sebagai obyek wisata.
"Kampung Naga merupakan daya tarik wisata unggulan di Kabupaten Tasikmalaya. Meski hanya menyumbangkan PAD kecil, namun keberadaannya justru penting untuk menyedot wisatawan mancanegara. Keunikan adat dan budayalah yang dicari. Keunikan seperti ini tidak ditemukan di daerah lainnya," ujar Kepala Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya, Safari Agustin, Minggu (12/3).

Namun, seperti yang diakui Safari, pengembangan pariwisata khususnya di Kampung Naga selama ini telah berjalan stagnan. Persoalannya, keterikatan warga Naga terhadap aturan adat sangatlah kuat.

Alasan menjaga kelestarian dan kemurnian kawasan adat mengakibatkan berbagai rencana Pemkab Tasikmalaya untuk menggenjot kunjungan wisata melalui peningkatan fasilitas dan infrastruktur selalu ditolak warga Naga.

Pada tahun 2002, Pemkab Tasikmalaya pernah melakukan feasibility studies untuk mengembangkan fasilitas di areal parkir Kampung Naga. Dalam site plan yang diterima Kompas, pengembangan itu meliputi pembuatan gapura, pengerasan landasan dan saung parkir, dan menata ulang bangunan toko cendera mata. Namun, keinginan tersebut tidak pernah terealisasi hingga kini.

Berdasarkan hasil kesepakatan Pemkab Tasikmalaya dan kuncen (tetua) Kampung Naga, status Kampung Naga secara redaksional telah diubah, bukan lagi sebagai obyek wisata melainkan "Saung Budaya".

Konselinensinya, berbagai kebijakan pariwisata, termasuk untuk menggenjot pendapatan asli daerah (PAD), tidak lagi berlaku di Kampung Naga. "Tidak masalah target pemasukan tidak tercapai. Yang terpenting, pengunjung akan kembali datang. Syukur, kalau bisa lebih ramai sehingga target pemasukan akan bisa terpenuhi dengan sendirinya," ungkapnya.

Secara terpisah, kuncen Kampung Naga Ade Suherlin menegaskan, pihaknya tetap konsisten menolak anggapan bahwa Kampung Naga merupakan obyek wisata.
"Pemerintah harus mengerti, adat itu bukan milik pemerintah, melainkan milik keturunan warga Naga. Hal ini sama dengan prinsip agama milik umat yang tidak bisa diganggu gugat," tutur Ade.


Minim


Berdasarkan data Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tasikmalaya, pada tahun 2005 kemarin, jumlah kunjungan wisatawan ke Kampung Naga mencapai hampir 10.000 orang. Dari jumlah tersebut, 200 di antaranya merupakan wisatawan mancanegara dari Eropa dan Amerika.

Dalam daftar peringkat pemasukan pariwisata terbanyak, Kampung Naga terlempar dari posisi lima besar. Selama tahun 2005 kemarin, pemasukan yang didapat dari Kampung Naga hanyalah sebesar Rp 10 juta. jumlah tersebut jauh lebih rendah dari pemasukan obyek wisata panorama Gunung Galunggung(Rp 160juta) dan obyek wisata religius Pamijahan (Rp 156 juta).

Selain faktor aturan adat, layaknya di daerah lainnya, kendala pengembangan potensi wisata di Tasikmalaya secara umum ada pada minimnya fasilitas dan infrastruktur penunjang seperti jalan raya dan hotel penginapan.

Ini terlihat dari tidak adanya penginapan di Galunggung dan Pamijahan. Hal yang sama juga terlihat dari buruknya kondisi jalan ke Galunggung.***


Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTPPOLBAN
OrganisasiPOLBAN
Nama KontakHelmi Purwanti
AlamatJl. Trsn. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon022 201 3789 ext. 168, 169, 239
Fax022 201 3889
E-mail Administratorhelmi.purwanti@polban.ac.id
E-mail CKOhelmi.purwanti@polban.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Editor: