Path: Top > Electronics Clipping > PENDIDIKAN

Jangan Abaikan Pendidikan Humaniora

PIKIRAN RAKYAT, Kamis, 16 Februari 2006, Hal.22
Clipping from JBPTPPOLBAN / 2012-02-18 15:07:20
Oleh : dewi irma , Polban
Dibuat : 2006-02-23, dengan 0 file

Keyword : Humaniora, moralitas, pendidikan

Berbagai macam kasus kekerason terjadi dalam kehidupan kemasyarakatan kita. Tindakan anarkis dan pelanggaran nilai kemanusiaan bahkan sudah menjadi keseharin. Hal yang mungkin indikator bahwa pendidikan belum berperan signifikan dalam proses membangun kepribadian bangsa yang punya jiwa sosial dan kemanusiaan. Tampaknya, manusia Indonesia harus lebih "dimanusiakan" lagi.

KETERPURUKAN bangsa ini yang berlarut-larut juga berhubungan dengan kegagalan pendidikan di masa lalu. Terjadi proses dehumanisasi sebenarnya sejak tahun 1950-an, bangsa Indonesia sudah didorong untuk lebih menghargai dan menguasai ilmu-ilmu eksakta dan teknologi daripada ilmu-ilmu kemanusiaan. Hal itu dilakukan untuk memperbaiki ketinggalan dari negara-negara Barat. Hal-hal yang berhubungan dengan mental, moral, dan spirit pun terpinggirkan.

Tak terbayangkan, seorang manusia hanya mengandalkan otaknya, tanpa memperhatikan dimensi afeksi. Gagasan dan langkah menuju pendidikan yang berorientasi kemanusiaan merupakan salah satu upaya mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan yang semakin terkikis. Melalui humaniora, diharapkan manusia dapat mengenal dirinya, kemanusiaannya yang utuh, dan tidak sekadar makhluk yang menundukkan lingkungan alam fisik melalui kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Universitas Parahyangan adalah salah satu perguruan tinggi yang concern terhadap hal ini, dengan mendirikan Pusat Kajian Humaniora (PKH) --yang merupakan pemekaran dati UPMKU (Unit Pelaksana Mata Kuliah Umum)-- pada tahun 2004. Pondok Humaniora adalah komunitas dan aktivitas yang dikelola oleh PKH. Salah satu bentuk kegiatannya adalah geladi diri (geladi spiritual, geladi natural, geladi mental, geladi intelektual, geladi kultural, geladi sosial, dan geladi kreatif, sebagai wahana internalisasi diri. Kegiatan ini kerap diadakan di luar kampus, misalnya dalam waktu dekat ini diadakan di Gambung, Ciwidey, selama 3 hari 2 malam.

Misalnya kegiatan geladi spiritual. Laurentius Tarpin, Ketua PKH Unpar, mengatakan meski Unpar adalah universitas katolik, namun ada yang disebut pluralitas agama dalam kegiatan yang dilakukan di alam bebas ini. Materi yang didalami adalah mengenai religiusitas. Bagaimana mengenali agama, Tuhan dan beriman secara benar. "Kami mencoba mengemasnya dalam bentuk yang umum," katanya. Kampus mewawancarai Laurentius yang juga menjadi dosen filsafat moral ini, di ruangannya di Fakultas Filsafat Unpar, Jln. Nias No.2. Berikut petikannya.


Bagaimana awalnya mendirikan PKH?

Kesadaran bahwa pendidikan saat ini tereduksi, hanya menyoal intelektualitas. Padahal, yang namanya pendidikan itu adalah proses memanusiakan manusia muda. Yang artinya, membantu manusia untuk mengaktualkan potensi-potensi yang ada. Sehingga akhirnya terbentuk manusia yang utuh, yang memiliki kematangan intelektual, kematangan emosional, kematangan moral, dan kematangan spiritual. Nah, itu yang coba kita sasar melalui pendidikan humaniora.


Apa sebenarnya humaniora? Cabang ilmu sosialkah?

Kalau dari bahasa Latin, ada yang disebut artes Uberales yaitu studi tentang kemanusiaan. Kalau kita merunut pada pendidikan Yunani kuno, ada trivium yaitu logika, retorika, dan gramatika. Sekarang, wacana humaniora jadi lebih luas, hukum juga di bidang humaniora sekarang. Pokoknya, humaniora itu ilmu-ilmu bersentuhan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Humaniora itu sebenarnya ilmu sosial. Lingkupnya memang luas, tapi kalau kami, ada etika, logika, estetika, pendidikan Pancasila, pendidikan kewarganegaraan (civil education), agama Katolik dan fenomenologi.


Seberapa penting pendidikan humaniora?

Karena ini langsung berkaitan dengan character building, jadi sangat penting. Jangan sampai orang mempunyai intelektualitas yang tinggi, namun tidak memiliki moralitas yang baik. Kita coba mengembalikan pendidikan pada visinya yang semula, yaitu membentuk kemanusiaan secara utuh itu. Jangan abaikan pendidikan humaniora.


Benarkah bahwa pendidikan di Indonesia masih kurang dalam mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan?

Memang. Berdirinya Pondok Humaniora ini juga terinspirasikan oleh 4 pilar pendidikan dari UNESCO, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together. Saya melihat, di learning to be dan learning to live together yang kurang. Saya melihat sekarang ini, apa yang disebut dengan kebersamaan, kesetiakawanan, kerja sama, solidaritas, itu mulai luntur. Lebih-lebih dengan pendidikan sistem SKS, di mana mahasiswa hanya dikejar untuk cepat selesai, cepat lulus. Saya juga menambahkan learning to learn dan learning to love.


Bagaimana keterkaitan pentingnya penerapan pendidikan humaniora dengan permasalahan bangsa ini?

Sebagai bangsa kita itu kan ditandai dengan pluralitas agama, budaya, dsb. Bagaimana kita hidup dalam iklim keberbedaan ini? Melalui pendidikan humaniora, mahasiswa diajak menyadari bahwa setiap pribadi itu memiliki dimensi individual dan sosial. Ini sangat penting, kaitannya dengan bagaimana hidup bersama orang lain, mengembangkan kepekaan untuk saling menghormati dan menghargai. Di sini saya melihat relevansi yang tinggi. Lebih-lebih, ada pendidikan estetika. Lewat estetika, selain mahasiswa diasah emosinya dan kreativitasnya, tapi juga diajak untuk bagaimana caranya mengekspresikan perasaannya secara tepat.


Memang selama ini banyak indikasi orang-orang yang mengekspresikan perasaannya secara kurang tepat?

Saya melihat banyak. Lihat di Indonesia sekarang ini, orang dengan mudahnya membakar rumah orang, menghancurkan toko orang, merusak punya orang lain, dsb., hanya karena mengekspresikan kemarahan secara tidak tepat. Lewat pendidikan humaniora ini, diharapkan para mahasiswa memiliki sense of art. Bagaimana mereka menyalurkan energi negatif, kemarahan, kekecewaan, secara konstruktif. Misalnya mereka membuat semaeam kabaret, puisi, drama, atau lagu, dsb., yang isinya kritik sosial. Daripada berbicara dengan pedang atau batu, lebih baik lewat karya seni, itu lebih simpatik.


Bagaimana penerapan pendidikan humaniora dalam kurikulum pendidikan tinggi?

Tujuh mata kuliah yang saya sebut tadi sudah built-in dalam kurikulum Unpar. Namun, jika hanya sebatas perkuliahan umum, itu belum cukup. Apalagi kalau misalnya pendidikan mata kuliah umum yang sifatnya character building, diadakan dalam kelas yang kolosal bagi saya itu kurang efektif. Maka kami sejak tahun 2004, mencoba menyelenggarakan pendidikan dalam kelas relative kecil dan mix. Tujuannya, saya mencoba mengikis apa yang disebut mental sektarian. Seringkali mahasiswa membangga-banggakan fakultasnya masing-masing. Lewat kelas campuran ini, orang wawasannya dibuka.


Untuk pendidikan kewarganegaraan misalnya, mungkin kalau dulu tidak jauh-jauh dari ideologi seperti ipoleksosbudhankam. Apa yang ditawarkan di sini?

Justru sekarang kita beda. Kalau dulu sifatnya seperti militeristik begitu yah. Kita lebih ke civil education. Bicara demokrasi, hak dan kewajiban, cinta tanah air, patriotisme, HAM, dsb. Arahnya, bagaimana membentuk warga negara yang punya loyalitas pada bangsa. Kita coba menerapkan sesuatu yang baru. Istilahnya mbalelo dalam hal ini, namun demi kebaikan.

Untuk pendidikan Pancasila, kalau metode pembelajaran diubah, bisa cukup menarik mahasiswa sebenarnya. Saya memang punya concern, bahwa Pancasila tetap menjadi ideologi bangsa yang bisa mempertemukan kepentingan semua pihak. Dalam proses pembelajaran pendidikan Pancasila, kita coba melihatnya melalui filsafat. Filsafat sebagai kunci hermenoutik memahami realitas.


Kalau ada yang berpendapat bahwa pendidikan humaniora itu kurang aplikatif dan memberi solusi, bagaimana pendapat Anda?

Kalau kita melihatnya dari perspektif ilmu-ilmu eksakta, mungkin ya. Humaniora itu kan berkaitan dengan values. Dan itu akan memengaruhi bagaimana manusia berpikir, melihat kenyataan, merespons situasi, dsb. Ini juga membantu dan penting. Kalau harus cara cepat ya tidak bisa. Karena yang namanya character building adalah suatu proses. Character building itu bukan sesuatu yang mudah dan sekali jadi. Mungkin juga mahasiswa akan merasakan manfaatnya pada saat nanti. Bukan seperti belajar komputer, hari ini belajar ini lalu langsung bisa, itu imposibble untuk urusan belajar soal nilai. ***

Deskripsi Alternatif :

Berbagai macam kasus kekerason terjadi dalam kehidupan kemasyarakatan kita. Tindakan anarkis dan pelanggaran nilai kemanusiaan bahkan sudah menjadi keseharin. Hal yang mungkin indikator bahwa pendidikan belum berperan signifikan dalam proses membangun kepribadian bangsa yang punya jiwa sosial dan kemanusiaan. Tampaknya, manusia Indonesia harus lebih "dimanusiakan" lagi.

KETERPURUKAN bangsa ini yang berlarut-larut juga berhubungan dengan kegagalan pendidikan di masa lalu. Terjadi proses dehumanisasi sebenarnya sejak tahun 1950-an, bangsa Indonesia sudah didorong untuk lebih menghargai dan menguasai ilmu-ilmu eksakta dan teknologi daripada ilmu-ilmu kemanusiaan. Hal itu dilakukan untuk memperbaiki ketinggalan dari negara-negara Barat. Hal-hal yang berhubungan dengan mental, moral, dan spirit pun terpinggirkan.

Tak terbayangkan, seorang manusia hanya mengandalkan otaknya, tanpa memperhatikan dimensi afeksi. Gagasan dan langkah menuju pendidikan yang berorientasi kemanusiaan merupakan salah satu upaya mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan yang semakin terkikis. Melalui humaniora, diharapkan manusia dapat mengenal dirinya, kemanusiaannya yang utuh, dan tidak sekadar makhluk yang menundukkan lingkungan alam fisik melalui kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Universitas Parahyangan adalah salah satu perguruan tinggi yang concern terhadap hal ini, dengan mendirikan Pusat Kajian Humaniora (PKH) --yang merupakan pemekaran dati UPMKU (Unit Pelaksana Mata Kuliah Umum)-- pada tahun 2004. Pondok Humaniora adalah komunitas dan aktivitas yang dikelola oleh PKH. Salah satu bentuk kegiatannya adalah geladi diri (geladi spiritual, geladi natural, geladi mental, geladi intelektual, geladi kultural, geladi sosial, dan geladi kreatif, sebagai wahana internalisasi diri. Kegiatan ini kerap diadakan di luar kampus, misalnya dalam waktu dekat ini diadakan di Gambung, Ciwidey, selama 3 hari 2 malam.

Misalnya kegiatan geladi spiritual. Laurentius Tarpin, Ketua PKH Unpar, mengatakan meski Unpar adalah universitas katolik, namun ada yang disebut pluralitas agama dalam kegiatan yang dilakukan di alam bebas ini. Materi yang didalami adalah mengenai religiusitas. Bagaimana mengenali agama, Tuhan dan beriman secara benar. "Kami mencoba mengemasnya dalam bentuk yang umum," katanya. Kampus mewawancarai Laurentius yang juga menjadi dosen filsafat moral ini, di ruangannya di Fakultas Filsafat Unpar, Jln. Nias No.2. Berikut petikannya.


Bagaimana awalnya mendirikan PKH?

Kesadaran bahwa pendidikan saat ini tereduksi, hanya menyoal intelektualitas. Padahal, yang namanya pendidikan itu adalah proses memanusiakan manusia muda. Yang artinya, membantu manusia untuk mengaktualkan potensi-potensi yang ada. Sehingga akhirnya terbentuk manusia yang utuh, yang memiliki kematangan intelektual, kematangan emosional, kematangan moral, dan kematangan spiritual. Nah, itu yang coba kita sasar melalui pendidikan humaniora.


Apa sebenarnya humaniora? Cabang ilmu sosialkah?

Kalau dari bahasa Latin, ada yang disebut artes Uberales yaitu studi tentang kemanusiaan. Kalau kita merunut pada pendidikan Yunani kuno, ada trivium yaitu logika, retorika, dan gramatika. Sekarang, wacana humaniora jadi lebih luas, hukum juga di bidang humaniora sekarang. Pokoknya, humaniora itu ilmu-ilmu bersentuhan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Humaniora itu sebenarnya ilmu sosial. Lingkupnya memang luas, tapi kalau kami, ada etika, logika, estetika, pendidikan Pancasila, pendidikan kewarganegaraan (civil education), agama Katolik dan fenomenologi.


Seberapa penting pendidikan humaniora?

Karena ini langsung berkaitan dengan character building, jadi sangat penting. Jangan sampai orang mempunyai intelektualitas yang tinggi, namun tidak memiliki moralitas yang baik. Kita coba mengembalikan pendidikan pada visinya yang semula, yaitu membentuk kemanusiaan secara utuh itu. Jangan abaikan pendidikan humaniora.


Benarkah bahwa pendidikan di Indonesia masih kurang dalam mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan?

Memang. Berdirinya Pondok Humaniora ini juga terinspirasikan oleh 4 pilar pendidikan dari UNESCO, yaitu learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together. Saya melihat, di learning to be dan learning to live together yang kurang. Saya melihat sekarang ini, apa yang disebut dengan kebersamaan, kesetiakawanan, kerja sama, solidaritas, itu mulai luntur. Lebih-lebih dengan pendidikan sistem SKS, di mana mahasiswa hanya dikejar untuk cepat selesai, cepat lulus. Saya juga menambahkan learning to learn dan learning to love.


Bagaimana keterkaitan pentingnya penerapan pendidikan humaniora dengan permasalahan bangsa ini?

Sebagai bangsa kita itu kan ditandai dengan pluralitas agama, budaya, dsb. Bagaimana kita hidup dalam iklim keberbedaan ini? Melalui pendidikan humaniora, mahasiswa diajak menyadari bahwa setiap pribadi itu memiliki dimensi individual dan sosial. Ini sangat penting, kaitannya dengan bagaimana hidup bersama orang lain, mengembangkan kepekaan untuk saling menghormati dan menghargai. Di sini saya melihat relevansi yang tinggi. Lebih-lebih, ada pendidikan estetika. Lewat estetika, selain mahasiswa diasah emosinya dan kreativitasnya, tapi juga diajak untuk bagaimana caranya mengekspresikan perasaannya secara tepat.


Memang selama ini banyak indikasi orang-orang yang mengekspresikan perasaannya secara kurang tepat?

Saya melihat banyak. Lihat di Indonesia sekarang ini, orang dengan mudahnya membakar rumah orang, menghancurkan toko orang, merusak punya orang lain, dsb., hanya karena mengekspresikan kemarahan secara tidak tepat. Lewat pendidikan humaniora ini, diharapkan para mahasiswa memiliki sense of art. Bagaimana mereka menyalurkan energi negatif, kemarahan, kekecewaan, secara konstruktif. Misalnya mereka membuat semaeam kabaret, puisi, drama, atau lagu, dsb., yang isinya kritik sosial. Daripada berbicara dengan pedang atau batu, lebih baik lewat karya seni, itu lebih simpatik.


Bagaimana penerapan pendidikan humaniora dalam kurikulum pendidikan tinggi?

Tujuh mata kuliah yang saya sebut tadi sudah built-in dalam kurikulum Unpar. Namun, jika hanya sebatas perkuliahan umum, itu belum cukup. Apalagi kalau misalnya pendidikan mata kuliah umum yang sifatnya character building, diadakan dalam kelas yang kolosal bagi saya itu kurang efektif. Maka kami sejak tahun 2004, mencoba menyelenggarakan pendidikan dalam kelas relative kecil dan mix. Tujuannya, saya mencoba mengikis apa yang disebut mental sektarian. Seringkali mahasiswa membangga-banggakan fakultasnya masing-masing. Lewat kelas campuran ini, orang wawasannya dibuka.


Untuk pendidikan kewarganegaraan misalnya, mungkin kalau dulu tidak jauh-jauh dari ideologi seperti ipoleksosbudhankam. Apa yang ditawarkan di sini?

Justru sekarang kita beda. Kalau dulu sifatnya seperti militeristik begitu yah. Kita lebih ke civil education. Bicara demokrasi, hak dan kewajiban, cinta tanah air, patriotisme, HAM, dsb. Arahnya, bagaimana membentuk warga negara yang punya loyalitas pada bangsa. Kita coba menerapkan sesuatu yang baru. Istilahnya mbalelo dalam hal ini, namun demi kebaikan.

Untuk pendidikan Pancasila, kalau metode pembelajaran diubah, bisa cukup menarik mahasiswa sebenarnya. Saya memang punya concern, bahwa Pancasila tetap menjadi ideologi bangsa yang bisa mempertemukan kepentingan semua pihak. Dalam proses pembelajaran pendidikan Pancasila, kita coba melihatnya melalui filsafat. Filsafat sebagai kunci hermenoutik memahami realitas.


Kalau ada yang berpendapat bahwa pendidikan humaniora itu kurang aplikatif dan memberi solusi, bagaimana pendapat Anda?

Kalau kita melihatnya dari perspektif ilmu-ilmu eksakta, mungkin ya. Humaniora itu kan berkaitan dengan values. Dan itu akan memengaruhi bagaimana manusia berpikir, melihat kenyataan, merespons situasi, dsb. Ini juga membantu dan penting. Kalau harus cara cepat ya tidak bisa. Karena yang namanya character building adalah suatu proses. Character building itu bukan sesuatu yang mudah dan sekali jadi. Mungkin juga mahasiswa akan merasakan manfaatnya pada saat nanti. Bukan seperti belajar komputer, hari ini belajar ini lalu langsung bisa, itu imposibble untuk urusan belajar soal nilai. ***

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTPPOLBAN
OrganisasiPolban
Nama KontakHelmi Purwanti
AlamatJl. Trsn. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon022 201 3789 ext. 168, 169, 239
Fax022 201 3889
E-mail Administratorhelmi.purwanti@polban.ac.id
E-mail CKOhelmi.purwanti@polban.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Sumber : Laurentius Tarpin
    , Editor: