Path: Top > Electronics Clipping > ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI > KIMIA, LINGKUNGAN & ENERGI

Belum Ada Aturan Batas Emisi di Kota Bandung, Masyarakat Lebih Memilih yang Bertimbal

KOMPAS, Selasa, 28 Maret 2006, Hal, A
Clipping from JBPTPPOLBAN / 2013-12-16 14:03:02
Oleh : (DIS/D07), POLBAN
Dibuat : 2006-04-03, dengan 1 file

Keyword : Batas emisi kendaraan bermotor, bensin bebas timbal

BANDUNG, KOMPAS : Hingga saat ini belum ada peraturan ambang batas emisi kendaraan bermotor di Kota Bandung. Akibatnya, kadar polutan udara di Bandung di atas batas normal yang ditentukan. Penetapan batas emisi hanya diatur Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 1993 tentang Ambang Batas Emisi.



Menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Kota Bandung Ayu Sukenjah, dari pemeriksaan yang dilakukan tahun 2005, sekitar 50,5 persen dari 771 kendaraan berbahan bakar bensin lolos uji. Sementara itu, dari 229 kendaraan berbahan bakar solar hanya 21,4 persen yang lolos.



Ayu mengharapkan, penerapan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 11/2005 tentang Penyelenggaraan Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan (perda K3) segera diberlakukan. Dalam perda tersebut ada klausul yang mengatur ketentuan untuk uji emisi rutin.



Ayu menjelaskan, tingginya kadar polutan udara di Kota Bandung juga disebabkan topografi Bandung yang berada di daerah cekungan sehingga udara yang tercemar tidak bisa tersebar ke daerah lain.
"Penelitian tahun 2005 menyebutkan bahwa sisa partikel dari letusan Gunung Galunggung sejak tahun 1982 masih terdeteksi hingga kini di udara Kota Bandung," ungkap Ayu.




Bantuan angin




Cara mengurangi polutan udara di cekungan Bandung, kata Ayu, hanya dengan bantuan angin. Tiupan angin dapat mengurangi konsentrasi polutan. Cara lain adalah dengan hujan meskipun efek negatif yang ditimbulkannya juga tidak kalah berbahaya.



Ayu menjelaskan, hujan membuat polutan di udara bisa turun ke tanah. Namun, hal itu menyebabkan hujan asam dan ini sudah terjadi di Kota Bandung. "Ketika sampai di tanah, keasaman tanah bertambah sehingga kesuburan berkurang," tuturnya.



Ayu menegaskan bahwa Pemerintah Kota Bandung telah meminta Pertamina menyuplai Kota Bandung dengan bensin bebas timbal (Pb). Hingga kini bensin tersebut baru terdapat di Jabotabek dan Kota Cirebon.



Namun, hal itu dibantah Pengawas Hubungan Masyarakat dan Pemerintah Unit Pemasaran Dalam Negeri (UPDN) III Pertamina, Darusman. Dia mengatakan, produk Pertamina berupa bensin bebas timbal sudah lama beredar di Kota Bandung dengan merek Pertamax dan Pertamax Plus, sedangkan untuk mesin diesel, dijual solar bebas timbal dengan merek Pertamina DEX.
"Kadar timbal dalam tiga jenis bahan bakar itu sama dengan bensin bebas timbal yang dijual di Jakarta. Masalahnya, para pengguna lebih memilih Premium yang harganya lebih murah," ujar Darusman.



Pertamax, Pertamax Plus, dan Pertamina DEX mempunyai kadar timbal sebesar 0,013 part per million (ppm). Yang membedakan ketiganya adalah kandungan oktan, seperti pada Pertamax dan Pertamax Plus.



Kepala Bagian Pertumbuhan Anak dari Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Kusnandi Rusmil MD menjelaskan, Pb sangat berbahaya, terutama bagi janin. Janin yang dikandung ibu dengan kadar Pb dalam darah tinggi, bisa lahir dengan berat badan rendah atau mengalami gangguan fungsi otak.



Kusnandi menambahkan, Pb amat berbahaya bagi anak pada usia empat tahun pertama sebab kadar Pb yang berlebih akan mengendap di otak. Akibatnya, anak akan mengalami gangguan otak minimal (minimal brain disorder) yang dapat berbentuk gangguan perilaku seperti hiperaktif atau autis.



Kalau endapan ini sampai merusak sel-sel otak, kata Kusnandi, anak dapat mengalami cerebral palsy (cp), kelainan gerak dan postur. Sementara itu, jika Pb mengalir dalam darah, anak-anak dapat mengalami gangguan kulit, ginjal, hati, bahkan sampai pada kematian.***

Deskripsi Alternatif :

BANDUNG, KOMPAS : Hingga saat ini belum ada peraturan ambang batas emisi kendaraan bermotor di Kota Bandung. Akibatnya, kadar polutan udara di Bandung di atas batas normal yang ditentukan. Penetapan batas emisi hanya diatur Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 3 Tahun 1993 tentang Ambang Batas Emisi.



Menurut Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Kota Bandung Ayu Sukenjah, dari pemeriksaan yang dilakukan tahun 2005, sekitar 50,5 persen dari 771 kendaraan berbahan bakar bensin lolos uji. Sementara itu, dari 229 kendaraan berbahan bakar solar hanya 21,4 persen yang lolos.



Ayu mengharapkan, penerapan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 11/2005 tentang Penyelenggaraan Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan (perda K3) segera diberlakukan. Dalam perda tersebut ada klausul yang mengatur ketentuan untuk uji emisi rutin.



Ayu menjelaskan, tingginya kadar polutan udara di Kota Bandung juga disebabkan topografi Bandung yang berada di daerah cekungan sehingga udara yang tercemar tidak bisa tersebar ke daerah lain.
"Penelitian tahun 2005 menyebutkan bahwa sisa partikel dari letusan Gunung Galunggung sejak tahun 1982 masih terdeteksi hingga kini di udara Kota Bandung," ungkap Ayu.




Bantuan angin




Cara mengurangi polutan udara di cekungan Bandung, kata Ayu, hanya dengan bantuan angin. Tiupan angin dapat mengurangi konsentrasi polutan. Cara lain adalah dengan hujan meskipun efek negatif yang ditimbulkannya juga tidak kalah berbahaya.



Ayu menjelaskan, hujan membuat polutan di udara bisa turun ke tanah. Namun, hal itu menyebabkan hujan asam dan ini sudah terjadi di Kota Bandung. "Ketika sampai di tanah, keasaman tanah bertambah sehingga kesuburan berkurang," tuturnya.



Ayu menegaskan bahwa Pemerintah Kota Bandung telah meminta Pertamina menyuplai Kota Bandung dengan bensin bebas timbal (Pb). Hingga kini bensin tersebut baru terdapat di Jabotabek dan Kota Cirebon.



Namun, hal itu dibantah Pengawas Hubungan Masyarakat dan Pemerintah Unit Pemasaran Dalam Negeri (UPDN) III Pertamina, Darusman. Dia mengatakan, produk Pertamina berupa bensin bebas timbal sudah lama beredar di Kota Bandung dengan merek Pertamax dan Pertamax Plus, sedangkan untuk mesin diesel, dijual solar bebas timbal dengan merek Pertamina DEX.
"Kadar timbal dalam tiga jenis bahan bakar itu sama dengan bensin bebas timbal yang dijual di Jakarta. Masalahnya, para pengguna lebih memilih Premium yang harganya lebih murah," ujar Darusman.



Pertamax, Pertamax Plus, dan Pertamina DEX mempunyai kadar timbal sebesar 0,013 part per million (ppm). Yang membedakan ketiganya adalah kandungan oktan, seperti pada Pertamax dan Pertamax Plus.



Kepala Bagian Pertumbuhan Anak dari Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Kusnandi Rusmil MD menjelaskan, Pb sangat berbahaya, terutama bagi janin. Janin yang dikandung ibu dengan kadar Pb dalam darah tinggi, bisa lahir dengan berat badan rendah atau mengalami gangguan fungsi otak.



Kusnandi menambahkan, Pb amat berbahaya bagi anak pada usia empat tahun pertama sebab kadar Pb yang berlebih akan mengendap di otak. Akibatnya, anak akan mengalami gangguan otak minimal (minimal brain disorder) yang dapat berbentuk gangguan perilaku seperti hiperaktif atau autis.



Kalau endapan ini sampai merusak sel-sel otak, kata Kusnandi, anak dapat mengalami cerebral palsy (cp), kelainan gerak dan postur. Sementara itu, jika Pb mengalir dalam darah, anak-anak dapat mengalami gangguan kulit, ginjal, hati, bahkan sampai pada kematian.***

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTPPOLBAN
OrganisasiPOLBAN
Nama KontakErlin Arvelina
AlamatJl. Trsn. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon022 201 3789 ext. 168, 169, 239
Fax022 201 3889
E-mail Administratorerlin.arvelina@polban.ac.id
E-mail CKOerlin.arvelina@polban.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • , Editor:

Download...