Path: Top > Electronics Clipping > ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI > TEKNIK SIPIL

Menhub "Dicuekin", Banyak Penumpang Tetap Duduk di Atap Kereta

KOMPAS, Selasa, 7 Maret 2006, Hal.28
Clipping from JBPTPPOLBAN / 2013-12-16 14:03:51
Oleh : (ELN/COK/NAW), POLBAN
Dibuat : 2006-03-10, dengan 0 file

Keyword : Kereta api, ketertiban, penumpang

JAKARTA, KOMPAS - Penertiban penumpang di atap kereta api dengan ancaman kereta tidak akan diberangkatkan sebelum semua penumpang di atap turun tidak berjalan mulus. Bahkan penumpang di atap kereta juga tak peduli meskipun yang menginstruksikan untuk turun adalah Menteri Perhubungan Hatta Rajasa.



Dalam inspeksi mendadak di lintasan Tanah Abang-Serpong, Senin (6/3), yang dimulai pukul 06.00, Menteri Perhubungan (Menhub) melihat sendiri bagaimana penumpang, khususnya di kereta rel listrik (KRL) ekonomi, nekat naik di sambungan gerbong, atap kereta, duduk di jendela, atau berdiri berdesak-desakan hingga posisi tubuh di luar pintu kereta yang terbuka.



Padahal, di setiap stasiun terdapat spanduk yang tampak baru bertuliskan imbauan supaya penumpang tidak naik ke atap kereta. Petugas juga tidak bosan-bosannya berteriak melalui pengeras suara dari ruang ihformasi, bahkan terkadang dengan nada kesal atau membentak.



Menhub juga sempat mengimbau penumpang KRL untuk tidak berdesak-desakan di dalam kereta, apalagi nekat naik ke atap. Akan tetapi, imbauan itu justru ditanggapi dengan celetukan supaya gerbong kereta atau jadwal perjalanan ditambah. Ketika sampai di Stasiun Sudimara, Kabupaten Tangerang, Menhub dan jajarannya dikagetkan dengan kedatangan KRL 907 jurusan Rangkasbitung-Tanah Abang yang membawa puluhan penumpang di atap kereta. Melalui pengeras suara, petugas stasiun berkali-kali meminta penumpang turun dengan mengancam kereta tidak akan diberangkatkan. Namun penumpang yang berada di atap kereta bergeming.



Tidak ketinggalan pula Direktur Jenderal Perkeretaapian Soemino Elm Saputra dan Direktur Utama PT Kereta Api (KA) Ronny Wahyudi yang berada dalam KRL JR 103 meminta penumpang di atap kereta turun.



Kembali penumpang di atap bersikap cuek. Namun, kereta yang juga tetap tidak bergerak hingga sekitar 10 menit itu membuat hati penumpang diatap Kereta luluh juga.



Semua penumpang di atap memang turun, tetapi saat kereta berjalan mereka dengan lincahnya kembali naik ke atap. Menhub pun cuma bisa geleng-geleng kepala.



Bondan, salah satu penumpang, mengatakan tidak selamanya penumpang di atap kereta tidak berkarcis. Mereka terpaksa naik ke atap karena kereta sudah penuh sesak. "Biasanya hanya ada empat sampai lima gerbong. Hari ini (Senin) kereta memang ditambah menjadi tujuh gerbong, tetapi penumpang tetap berjubel hingga ada yang naik ke atap," ujarnya.



Untuk menunggu kereta berikutnya saja, kata pedagang di Pasar Tanah Abang ini, tidak mungkin dilakukannya. Sebab kondisi kereta tetap saja penuh, bahkan bisa lebih parah dan jadwal kedatangan sering molor.




Tidak selesaikan persoalan




Menanggapi tidak mulusnya operasi penertiban penumpang di atap kereta, Menhub mengatakan, cara itu hanya memecahkan persoalan dalam jangka pendek.
"Penertiban penumpang di atap kereta memang hanya sementara dan tidak menyelesaikan persoalan saat ini. Sebab, persoalan fundamentalnya yang harus diatasi dengan penambahan gerbong dan pembuatan rel ganda," katanya.



Pembuatan rel ganda jalur Tanah Abang-Serpong saat ini memasuki tahap penetapan desain yang akan dilelang kepada kontraktor. "Pada Mei 2006 dijadwalkan mulai pembangunan konstruksinya. Awal tahun 2007 nanti, diharapkan rel ganda itu dapat mulai beroperasi," kata Soemino.



Adapun penambahan armada berupa lokomotif beserta gerbongnya memang belum dapat dipastikan. Dalam tahun ini ada rencana penambahan 40 set kereta dari Jepang.



Untuk penambahan gerbong, PT KA menghadapi kendala kondisi lokomotif. Khusus pada 10 lokomotif KA diesel dengan 20 perjalanan per hari yang melintas Tanah Abang-Serpong itu hanya bisa maksimal sampai tujuh gerbong dengan kapasitas 156 orang duduk dan berdiri dalam satu gerbong.



Untuk mengatasi penumpang di atap kereta, PT KA Daerah Operasi I dan Divisi Jabotabek menggelar prokasih, yakni kependekan dari program aksi atap kereta api bersih dari para penumpang. Penumpang di atap kereta didata dan diminta menandatangani surat pernyataan tidak akan mengulanginya lagi. Sanksi denda sebesar Rp 1 juta pun akan dikenakan kepada penumpang yang membandel.



Operasi penertiban penumpang kereta yang digelar di Jakarta ternyata belum menyentuh Bekasi. "Sampai saat ini belum ada instruksi dari kepala stasiun" ujarnya.***

Deskripsi Alternatif :

JAKARTA, KOMPAS - Penertiban penumpang di atap kereta api dengan ancaman kereta tidak akan diberangkatkan sebelum semua penumpang di atap turun tidak berjalan mulus. Bahkan penumpang di atap kereta juga tak peduli meskipun yang menginstruksikan untuk turun adalah Menteri Perhubungan Hatta Rajasa.



Dalam inspeksi mendadak di lintasan Tanah Abang-Serpong, Senin (6/3), yang dimulai pukul 06.00, Menteri Perhubungan (Menhub) melihat sendiri bagaimana penumpang, khususnya di kereta rel listrik (KRL) ekonomi, nekat naik di sambungan gerbong, atap kereta, duduk di jendela, atau berdiri berdesak-desakan hingga posisi tubuh di luar pintu kereta yang terbuka.



Padahal, di setiap stasiun terdapat spanduk yang tampak baru bertuliskan imbauan supaya penumpang tidak naik ke atap kereta. Petugas juga tidak bosan-bosannya berteriak melalui pengeras suara dari ruang ihformasi, bahkan terkadang dengan nada kesal atau membentak.



Menhub juga sempat mengimbau penumpang KRL untuk tidak berdesak-desakan di dalam kereta, apalagi nekat naik ke atap. Akan tetapi, imbauan itu justru ditanggapi dengan celetukan supaya gerbong kereta atau jadwal perjalanan ditambah. Ketika sampai di Stasiun Sudimara, Kabupaten Tangerang, Menhub dan jajarannya dikagetkan dengan kedatangan KRL 907 jurusan Rangkasbitung-Tanah Abang yang membawa puluhan penumpang di atap kereta. Melalui pengeras suara, petugas stasiun berkali-kali meminta penumpang turun dengan mengancam kereta tidak akan diberangkatkan. Namun penumpang yang berada di atap kereta bergeming.



Tidak ketinggalan pula Direktur Jenderal Perkeretaapian Soemino Elm Saputra dan Direktur Utama PT Kereta Api (KA) Ronny Wahyudi yang berada dalam KRL JR 103 meminta penumpang di atap kereta turun.



Kembali penumpang di atap bersikap cuek. Namun, kereta yang juga tetap tidak bergerak hingga sekitar 10 menit itu membuat hati penumpang diatap Kereta luluh juga.



Semua penumpang di atap memang turun, tetapi saat kereta berjalan mereka dengan lincahnya kembali naik ke atap. Menhub pun cuma bisa geleng-geleng kepala.



Bondan, salah satu penumpang, mengatakan tidak selamanya penumpang di atap kereta tidak berkarcis. Mereka terpaksa naik ke atap karena kereta sudah penuh sesak. "Biasanya hanya ada empat sampai lima gerbong. Hari ini (Senin) kereta memang ditambah menjadi tujuh gerbong, tetapi penumpang tetap berjubel hingga ada yang naik ke atap," ujarnya.



Untuk menunggu kereta berikutnya saja, kata pedagang di Pasar Tanah Abang ini, tidak mungkin dilakukannya. Sebab kondisi kereta tetap saja penuh, bahkan bisa lebih parah dan jadwal kedatangan sering molor.




Tidak selesaikan persoalan




Menanggapi tidak mulusnya operasi penertiban penumpang di atap kereta, Menhub mengatakan, cara itu hanya memecahkan persoalan dalam jangka pendek.
"Penertiban penumpang di atap kereta memang hanya sementara dan tidak menyelesaikan persoalan saat ini. Sebab, persoalan fundamentalnya yang harus diatasi dengan penambahan gerbong dan pembuatan rel ganda," katanya.



Pembuatan rel ganda jalur Tanah Abang-Serpong saat ini memasuki tahap penetapan desain yang akan dilelang kepada kontraktor. "Pada Mei 2006 dijadwalkan mulai pembangunan konstruksinya. Awal tahun 2007 nanti, diharapkan rel ganda itu dapat mulai beroperasi," kata Soemino.



Adapun penambahan armada berupa lokomotif beserta gerbongnya memang belum dapat dipastikan. Dalam tahun ini ada rencana penambahan 40 set kereta dari Jepang.



Untuk penambahan gerbong, PT KA menghadapi kendala kondisi lokomotif. Khusus pada 10 lokomotif KA diesel dengan 20 perjalanan per hari yang melintas Tanah Abang-Serpong itu hanya bisa maksimal sampai tujuh gerbong dengan kapasitas 156 orang duduk dan berdiri dalam satu gerbong.



Untuk mengatasi penumpang di atap kereta, PT KA Daerah Operasi I dan Divisi Jabotabek menggelar prokasih, yakni kependekan dari program aksi atap kereta api bersih dari para penumpang. Penumpang di atap kereta didata dan diminta menandatangani surat pernyataan tidak akan mengulanginya lagi. Sanksi denda sebesar Rp 1 juta pun akan dikenakan kepada penumpang yang membandel.



Operasi penertiban penumpang kereta yang digelar di Jakarta ternyata belum menyentuh Bekasi. "Sampai saat ini belum ada instruksi dari kepala stasiun" ujarnya.***

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTPPOLBAN
OrganisasiPOLBAN
Nama KontakErlin Arvelina
AlamatJl. Trsn. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon022 201 3789 ext. 168, 169, 239
Fax022 201 3889
E-mail Administratorerlin.arvelina@polban.ac.id
E-mail CKOerlin.arvelina@polban.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Editor: