Path: Top > Electronics Clipping > BISNIS DAN EKONOMI

Rasio NPF Bank Syariah Mengecil

BISNIS INDONESIA, Senin, 5 Juni 2006, Hal.B3
Clipping from JBPTPPOLBAN / 2013-12-16 13:46:07
Oleh : Fahmi Ahmad, POLBAN
Dibuat : 2006-06-06, dengan 0 file

Keyword : non performing financing, perbankan syariah, kolektibilitas

JAKARTA: Setelah hampir melewati ambang ideal selama tiga bulan pertama, posisi non performing financing (NPF) industri perbankan syariah per Apri12006 kembali turun menjadi 3,99% dari bulan sebelumnya 4,27%.


Data statistik perbankan syariah per April 2006 yang dilansir Bank Indonesia menyebutkan total nilai pembiayaan bermasalah selama empat bulan terakhir sebesar Rp661,12 miliar atau 3,99% dari total pembiayaan Rp16,59 triliun.


Nilai NPF tersebut tercatat turun dibandingkan bulan sebelumnya Rp683,63 miliar atau 4,27% dari total nilai pembiayaan yang dilempar perbankan syariah sebesar Rp15,99 triliun.


Dari total Rp661,12 miliar itu, pembiayaan dengan kolektibilitas kurang lancar (kol 13) tercatat turun dari Rp361,26 miliar (Maret 2006) menjadi Rp 307,13 miliar. Sedangkan pembiayaan dengan kolektibilitas diragukan (kol 4) dan macet (kol 5) tercatat meningkat. Pembiayaan kol 4 naik dari Rp123,44 miliar menjadi Rp148,38 miliar.


Adapun pembiayaan dengan status kol 5 (macet) tercatat naik tipis dari Rp198,93 miliar menjadi Rp205,1 miliar.


Menanggapi hal itu, Direktur Komersial dan Usaha Syariah BNI, Bien Subiantoro mengatakan posisi rasio NPF lebih cepat turun dibandingkan non performing loan (NPL) bank konvensional.


Bien menjelaskan hal tersebut dikarenakan permasalahan perusahaan nasabah/mudharib bank syariah tidak bersifat struktural seperti debitor bank konvensional serta outstanding individualnya juga lebih kecil.


Selain itu, pembiayaan yang diberikan bank syariah masih bersifat baru sehingga usaha debitor masih beroperasi ditambah karakter nasabahnya belum terkontaminasi mudharib/debitor nakal.
"Dengan empat hal tersebut restrukturisasi relatif lebih mudah dan sederhana," ujarnya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.


Menurut Budi Wisakseno, Dirut PT Bank Syariah Mega Indonesia, masih tingginya posisi NPF perlu dilihat dari segmen pasar pembiayaannya. "Kalau dari sektor industri dan perdagangan terpukul dikarenakan persaingan produk sejenis dari China plus daya masyarakat yang terus melemah."


Secara terpisah, A. Riawan Amin Dirut PT Bank Muamalat mengatakan pihaknya berupaya menjaga posisi rasio NPF di bawah 2% agar indikasi tingkat pengembalian terhadap nasabah penyimpan juga naik.


Data Bank Indonesia juga mengungkapkan komposisi pembiayaan perbankan syariah sepanjang empat bulan pertama 2006 masih didominasi piutang murabahah (berakad jual beli).


Pembiayaan murabahah yang berisiko rendah itu tercatat sebesar Rpl0,41 triliun atau 62,73% dari total pembiayaan industri perbankan syariah per April 2006 senilai Rp16,59 triliun. Total nilai pembiayaan industri itu naik dari bulan sebelumnya Rp15,99 triliun.


Adapun pembiayaan berakad bagi hasil dan berisiko besar seperti mudharabah dan musyarakah menempati posisi berikutnya masing-masing Rp3,34 triliun (20,11%) dan Rp2,04 triliun (12,32%).


Sisanya piutang isthisna Rp290,1 miliar (1,75%), lainnya Rp512,41 miliar (3,09%), tapi tak ada bank syariah yang menyalurkan pembiayaan piutang salam sejak Oktober 2005.***

Deskripsi Alternatif :

JAKARTA: Setelah hampir melewati ambang ideal selama tiga bulan pertama, posisi non performing financing (NPF) industri perbankan syariah per Apri12006 kembali turun menjadi 3,99% dari bulan sebelumnya 4,27%.


Data statistik perbankan syariah per April 2006 yang dilansir Bank Indonesia menyebutkan total nilai pembiayaan bermasalah selama empat bulan terakhir sebesar Rp661,12 miliar atau 3,99% dari total pembiayaan Rp16,59 triliun.


Nilai NPF tersebut tercatat turun dibandingkan bulan sebelumnya Rp683,63 miliar atau 4,27% dari total nilai pembiayaan yang dilempar perbankan syariah sebesar Rp15,99 triliun.


Dari total Rp661,12 miliar itu, pembiayaan dengan kolektibilitas kurang lancar (kol 13) tercatat turun dari Rp361,26 miliar (Maret 2006) menjadi Rp 307,13 miliar. Sedangkan pembiayaan dengan kolektibilitas diragukan (kol 4) dan macet (kol 5) tercatat meningkat. Pembiayaan kol 4 naik dari Rp123,44 miliar menjadi Rp148,38 miliar.


Adapun pembiayaan dengan status kol 5 (macet) tercatat naik tipis dari Rp198,93 miliar menjadi Rp205,1 miliar.


Menanggapi hal itu, Direktur Komersial dan Usaha Syariah BNI, Bien Subiantoro mengatakan posisi rasio NPF lebih cepat turun dibandingkan non performing loan (NPL) bank konvensional.


Bien menjelaskan hal tersebut dikarenakan permasalahan perusahaan nasabah/mudharib bank syariah tidak bersifat struktural seperti debitor bank konvensional serta outstanding individualnya juga lebih kecil.


Selain itu, pembiayaan yang diberikan bank syariah masih bersifat baru sehingga usaha debitor masih beroperasi ditambah karakter nasabahnya belum terkontaminasi mudharib/debitor nakal.
"Dengan empat hal tersebut restrukturisasi relatif lebih mudah dan sederhana," ujarnya kepada Bisnis, akhir pekan lalu.


Menurut Budi Wisakseno, Dirut PT Bank Syariah Mega Indonesia, masih tingginya posisi NPF perlu dilihat dari segmen pasar pembiayaannya. "Kalau dari sektor industri dan perdagangan terpukul dikarenakan persaingan produk sejenis dari China plus daya masyarakat yang terus melemah."


Secara terpisah, A. Riawan Amin Dirut PT Bank Muamalat mengatakan pihaknya berupaya menjaga posisi rasio NPF di bawah 2% agar indikasi tingkat pengembalian terhadap nasabah penyimpan juga naik.


Data Bank Indonesia juga mengungkapkan komposisi pembiayaan perbankan syariah sepanjang empat bulan pertama 2006 masih didominasi piutang murabahah (berakad jual beli).


Pembiayaan murabahah yang berisiko rendah itu tercatat sebesar Rpl0,41 triliun atau 62,73% dari total pembiayaan industri perbankan syariah per April 2006 senilai Rp16,59 triliun. Total nilai pembiayaan industri itu naik dari bulan sebelumnya Rp15,99 triliun.


Adapun pembiayaan berakad bagi hasil dan berisiko besar seperti mudharabah dan musyarakah menempati posisi berikutnya masing-masing Rp3,34 triliun (20,11%) dan Rp2,04 triliun (12,32%).


Sisanya piutang isthisna Rp290,1 miliar (1,75%), lainnya Rp512,41 miliar (3,09%), tapi tak ada bank syariah yang menyalurkan pembiayaan piutang salam sejak Oktober 2005.***

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTPPOLBAN
OrganisasiPOLBAN
Nama KontakHelmi Purwanti
AlamatJl. Trsn. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon022 201 3789 ext. 168, 169, 239
Fax022 201 3889
E-mail Administratorhelmi.purwanti@polban.ac.id
E-mail CKOhelmi.purwanti@polban.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Editor: