Path: Top > Electronics Clipping > ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI > KIMIA, LINGKUNGAN & ENERGI

Fitoplankton Kendalikan Pemanasan Global

KOMPAS, Kamis, 20 April 2006, Hal. 13
Clipping from JBPTPPOLBAN / 2013-12-16 14:03:02
Oleh : (GSA), POLBAN
Dibuat : 2006-04-21, dengan 0 file

Keyword : Fitoplankton, karbon dioksida, pemanasan global

JAKARTA, KOMPAS - Mengurangi bahaya pemanasan global tidak hanya dapat dilakukan melalui perilaku ramah lingkungan. Fitoplankton pun memiliki peran serupa dengan menyerap karbon dioksida untuk pertumbuhannya.
"Riset terakhir menemukan bukti daya serap karbon dioksidanya hampir sama dengan seluruh tumbuhan yang ada di daratan," kata peneliti Osenografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr. Anugerah Nontji APU dalam peluncuran bukunya yang berjudul Plankton di Jakarta, Rabu (19/4).



Menurut perhitungan, jumlah karbon dioksida (C02) yang diserap tumbuhan di daratan per tahunnya mencapai sekitar 30 miliar ton. Jumlah itu semakin berkurang seiring banyaknya konversi lahan, yang di antaranya, untuk aktivitas industri.



Perhitungan tersebut dinilai sangat masuk akal mengingat 71 persen luasan planet Bumi merupakan air. "Per satu liter air laut terdapat ribuan bahkan jutaan sel fitoplankton," katanya.



Oleh karena itulah, pakar ekologi laut Paul Falkowski mengistilahkan lautan sebagai hutan belantara yang tak terlihat. Fitoplankton tumbuh di lapisan air yang masih tertembus sinar matahari.




Untuk fotosintesis




Staf pengajar bidang oseanografi biologi Fakultas Perikanan kawasan Laut Selatan, Pasitik Ekuator, dan Pasitik Utara Subarktik. Padahal, di kawasan tersebut memiliki nutrien sangat tinggi. "Peneliti dari Amerika menemukan bukti di sana kekurangan zat besi yang juga dibutuhkan fitoplankton," ujarnya.
"Fitoplankton menyerap karbon dioksida yang ada di air saja, tidak langsung dari atmosfer," katanya. Begitu ketersediaannya di air berkurang, karbon dioksida yang berada di atmosfer masuk ke air.



Berdasarkan penelitian, tidak semua kawasan laut subur bagi perkembangan fitoplankton. Setidaknya ada tiga kawasan masuk kategori itu, masing-masing di kawasan Laut Selatan, Pasifik Ekuator, dan Pasifik Utara Subarktik.



Sebuah penelitian tahun 1990-an membuktikan, dengan pemupukan ferosulfat dua kali (FeSO4) jumlah karbon dioksida yang diserap fitoplankton di kawasan itu meningkat drastis. Serapan C02 dari udara pun sama.



Dari sisi itu saja, lanjut Richardus, potensi penyerapan C02 sangat besar mengingat luasan kawasan tersebut setara dengan Benua Australia. "Pemanasan global jelas berkurang," dan Kelautan Institut, Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Richardus Kaswadji mengatakan, penyerapan karbon dioksida oleh fitolankton terkait fotosintesis. Hasilnya, baban organik seperti karbohidrat, lemak, dan protein sebagai makanan mereka.



Akan tetapi, penelitian berikutnya masih dilakukan untuk melihat terutarna dampak negatif dari pemupukan ferosulfat itu.




Ancaman




Di tengah peran alami fitoplankton yang turut mengendalikan pemanasan global itu, ancaman muncul terkait limbah yang dibuang ke perairan dan reklamasi. "Perilaku yang ramah lingkungan juga dibutuhkan demi kelestarian plankton," kata Anugerah.



Selain jasa lingkungan, fitoplankton merupakan kunci paling awal dari siklus hidup biota laut. Fitoplankton dimangsa zooplankton, yang pada gilirannya dimangsa ikan yang lebih besar sebelum kemudian dikonsumsi manusia.***

Deskripsi Alternatif :

JAKARTA, KOMPAS - Mengurangi bahaya pemanasan global tidak hanya dapat dilakukan melalui perilaku ramah lingkungan. Fitoplankton pun memiliki peran serupa dengan menyerap karbon dioksida untuk pertumbuhannya.
"Riset terakhir menemukan bukti daya serap karbon dioksidanya hampir sama dengan seluruh tumbuhan yang ada di daratan," kata peneliti Osenografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr. Anugerah Nontji APU dalam peluncuran bukunya yang berjudul Plankton di Jakarta, Rabu (19/4).



Menurut perhitungan, jumlah karbon dioksida (C02) yang diserap tumbuhan di daratan per tahunnya mencapai sekitar 30 miliar ton. Jumlah itu semakin berkurang seiring banyaknya konversi lahan, yang di antaranya, untuk aktivitas industri.



Perhitungan tersebut dinilai sangat masuk akal mengingat 71 persen luasan planet Bumi merupakan air. "Per satu liter air laut terdapat ribuan bahkan jutaan sel fitoplankton," katanya.



Oleh karena itulah, pakar ekologi laut Paul Falkowski mengistilahkan lautan sebagai hutan belantara yang tak terlihat. Fitoplankton tumbuh di lapisan air yang masih tertembus sinar matahari.




Untuk fotosintesis




Staf pengajar bidang oseanografi biologi Fakultas Perikanan kawasan Laut Selatan, Pasitik Ekuator, dan Pasitik Utara Subarktik. Padahal, di kawasan tersebut memiliki nutrien sangat tinggi. "Peneliti dari Amerika menemukan bukti di sana kekurangan zat besi yang juga dibutuhkan fitoplankton," ujarnya.
"Fitoplankton menyerap karbon dioksida yang ada di air saja, tidak langsung dari atmosfer," katanya. Begitu ketersediaannya di air berkurang, karbon dioksida yang berada di atmosfer masuk ke air.



Berdasarkan penelitian, tidak semua kawasan laut subur bagi perkembangan fitoplankton. Setidaknya ada tiga kawasan masuk kategori itu, masing-masing di kawasan Laut Selatan, Pasifik Ekuator, dan Pasifik Utara Subarktik.



Sebuah penelitian tahun 1990-an membuktikan, dengan pemupukan ferosulfat dua kali (FeSO4) jumlah karbon dioksida yang diserap fitoplankton di kawasan itu meningkat drastis. Serapan C02 dari udara pun sama.



Dari sisi itu saja, lanjut Richardus, potensi penyerapan C02 sangat besar mengingat luasan kawasan tersebut setara dengan Benua Australia. "Pemanasan global jelas berkurang," dan Kelautan Institut, Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Richardus Kaswadji mengatakan, penyerapan karbon dioksida oleh fitolankton terkait fotosintesis. Hasilnya, baban organik seperti karbohidrat, lemak, dan protein sebagai makanan mereka.



Akan tetapi, penelitian berikutnya masih dilakukan untuk melihat terutarna dampak negatif dari pemupukan ferosulfat itu.




Ancaman




Di tengah peran alami fitoplankton yang turut mengendalikan pemanasan global itu, ancaman muncul terkait limbah yang dibuang ke perairan dan reklamasi. "Perilaku yang ramah lingkungan juga dibutuhkan demi kelestarian plankton," kata Anugerah.



Selain jasa lingkungan, fitoplankton merupakan kunci paling awal dari siklus hidup biota laut. Fitoplankton dimangsa zooplankton, yang pada gilirannya dimangsa ikan yang lebih besar sebelum kemudian dikonsumsi manusia.***

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTPPOLBAN
OrganisasiPOLBAN
Nama KontakErlin Arvelina
AlamatJl. Trsn. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon022 201 3789 ext. 168, 169, 239
Fax022 201 3889
E-mail Administratorerlin.arvelina@polban.ac.id
E-mail CKOerlin.arvelina@polban.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Editor: