Path: Top > Electronics Clipping > PARIWISATA

Kesepakatan Mengentaskan Kemiskinan Melalui Pariwisata

BISNIS INDONESIA, Rabu, 1 Maret 2006, Hal.2
Clipping from JBPTPPOLBAN / 2012-02-18 15:07:21
Oleh : Hilda Sabri Sulistyo, POLBAN
Dibuat : 2006-03-07, dengan 0 file

Keyword : UNESO, UNWTO, kemiskinan, budaya

International Conference on Cultural Tourism and Local Communities (ICCT-LC) yang berlangsung di Yogyakarta awal Febuari lalu menyoroti isu strategis terutama bagaimana peran pariwisata budaya dalam pengentasan kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Acara ini dihadiri oleh Francesco Frangialli, Sekjen United Nation World Tourism Organization (UNWTO), Wakil Presiden Iran Esfandyar Rahim Mashace, Menko Kesra Aburizal Bakrie, sejumlah duta besar, 60 pejabat tinggi pariwisata lainnya dari mancanegara termasuk konsultan dari UNESCO dan para pembicara internasional dari Hawai, China, Vietnam, Jordania, Thailand, Jepang, Macau, dan Iran.

Dari tuan rumah, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik membuka acara dan Menko Kesra Aburizal Bakrie memberikan sambutan di susul pada sesi berikunya ekonom Syahrir yang juga penasihat Presiden RI memaparkan pemikirannya tentang pariwisata yang memompa pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Pariwisata budaya diibaratkan dua sisi mata uang yang berbeda dan upaya mendefinisikan serta mendiskripsikan kegiatan wisata budaya juga bisa butuh waktu berhari-hari bahkan juga bisa memunculkan beragam argumen karena pariwisata berorientasi pada bisnis atau industri, sementara budaya dinilai sebagai upaya konservasi dan pelestarian.

Untunglah UNWTO dan UNESCO sudah banyak mengeluarkan sejumlah kode etik atau instrumen baik yang sifatnya deklarasi, rekomendasi, konvensi sehingga seluruh peserta kegiatan ini diarahkan untuk mengacu pada instumen yang sudah ada. Hasil akhirnya adalah arahan-arahan bagi pemerintah, swasta, masyarakat lokal dan stakeholders lainnya bagaimana sebaiknya mengembangkan pariwisata budaya yang dapat mengatasi kemiskinan di negara masing-masing.


Kemiskinan


Francesco Frangialli, Sekjen UNWTO mengatakan kenapa pariwisata bisa menjadi alat untuk mengentaskan kemiskinan baik oleh negara maju maupun berkembang? Selain mengentaskan kemiskinan memang menjadi salah satu agenda utama badan dunia itu, kenyataannya sektor pariwisata tetap tumbuh dengan baik meski diberbagai belahan dunia terjadi tsunami, terorisme, flu burung dan bencana lainnya.

Tahun lalu, misalnya jumlah wisatawan dunia mencapai 808 juta orang dengan pertumbuhan rata-rata di seluruh dunia mencapai 5,5%. Bahkan di Asia Pasifik, pertumbuhannya mencapai 7%. Akhir 2004 lalu Indonesia, Thailand, Maladewa dan Sri Lanka sama-sama terpukul oleh bencana tsunami bahkan di Indonesia disusul pula dengan gempa di Nias. Tapi setelah setahun bencana besar itu, pariwisatanya sudah bangkit lagi. Pariwisata sudah menjadi industri utama di banyak negara dan pada 2004 kontribusi pariwisata pada PDB dunia mencapai 10,4%, penyerapan tenaga kerja 8,1%, ekspor 12,2% dan penanaman modal 9,4%. Jadi pariwisata telah terbukti dan teruji menjadi motor penggerak ekonomi dan menciptakan lapangan kerja dan mensejahterakan masyarakat. Pariwisata adalah satu dari lima kategori ekspor utama dari 83% negara-negara di dunia dan menjadi sumber devisa utama sedikitnya 38% dari Negara-negara itu. Pariwisata akan terus tumbuh dengan baik dan UNWTO memproyeksikan pada 2020 akan ada 1,6 miliar wisman.

Menkokesra Aburizal Bakrie meminta peserta memahami peluang dan menggali potensi pariwisata budaya itu bagi masyarakat lokal.


Jangka panjang


Pengembangan pariwisata budaya bukan program jangka pendek tapi harus didukung dengan perencanaan yang matang untuk jangka panjang. Selain itu para pelaku, pengambil keputusan dan masyarakat harus mampu berkordinasi, bersinergi dan yang penting bagaimana mendorong swasta untuk ikut ambil bagian dan kebijakan serta strategi apa yang dibutuhkan.

Sedang Syahrir menilai keberhasilan suatu destinasi wisata sangat tergantung dari sikap masyarakatnya. Dari sisi keindahan dan keunikan, seharusnya Indonesia mampu meraup devisa yang besar dari pariwisata ketimbang Singapura tapi mengapa justru Singapuralah yang menikmati keuntungan dari wisatawan Indonesia?

Syahrir yang berasal dari Sumatra Barat juga mengajak peserta untuk berfikir kenapa Sumatra Barat tidak sepopuler Bali sebagai tujuan wisata padahal dari sisi keindahan pemandangan, budaya, makanan dan lainnya juga tidak kalah dibandingkan dengan Bali.

Dari berbagai uraian yang ada, akhirnya para peserta ICCT-LC yang diikuti 31 negara ini sepakat menerapkan instrumen-instrumen atau kode etik pengembangan wisata budaya misalnya UNESCO Universal Delacation on Cultural Diversity of 2001, UNESCO Convention for the safeguarding of intangible Cultural Heritage, 2003 dan The Hue Declaration on Cultural Tourism and Poversty Alleviation 2004 disamping Delarasi Yogyakarta.

ltulah sebabnya pemerintah dihimbau untuk mengalokasi dana yang cukup untuk SDM, termasuk pelatihan dan pendidikan bagi para pengambil keputusan, perencana, peneliti, tour operator hingga ke masyarakat lokal.

Sedang swasta dihimbau melakukan kerja sama dengan masyarakat lokal untuk mengoptimalkan konnibusi ekonomi pariwisata budaya, mempromosikan budaya lokal dengan tetap melindungi karakteristiknya dan mempertimbangkan kemampuan atau daya dukung nilai-nilai maupun objek yang ada.

Masih banyak himbauan yang ditujukan pada lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan stakeholders lainnya termasuk kalangan akademisi dan peranan media nasional maupun internasional untuk mempromosikan dan menyebarluaskan gambaran yang sesungguhnya dari pengembangan pariwisata budaya.***

Deskripsi Alternatif :

International Conference on Cultural Tourism and Local Communities (ICCT-LC) yang berlangsung di Yogyakarta awal Febuari lalu menyoroti isu strategis terutama bagaimana peran pariwisata budaya dalam pengentasan kemiskinan dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Acara ini dihadiri oleh Francesco Frangialli, Sekjen United Nation World Tourism Organization (UNWTO), Wakil Presiden Iran Esfandyar Rahim Mashace, Menko Kesra Aburizal Bakrie, sejumlah duta besar, 60 pejabat tinggi pariwisata lainnya dari mancanegara termasuk konsultan dari UNESCO dan para pembicara internasional dari Hawai, China, Vietnam, Jordania, Thailand, Jepang, Macau, dan Iran.

Dari tuan rumah, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik membuka acara dan Menko Kesra Aburizal Bakrie memberikan sambutan di susul pada sesi berikunya ekonom Syahrir yang juga penasihat Presiden RI memaparkan pemikirannya tentang pariwisata yang memompa pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Pariwisata budaya diibaratkan dua sisi mata uang yang berbeda dan upaya mendefinisikan serta mendiskripsikan kegiatan wisata budaya juga bisa butuh waktu berhari-hari bahkan juga bisa memunculkan beragam argumen karena pariwisata berorientasi pada bisnis atau industri, sementara budaya dinilai sebagai upaya konservasi dan pelestarian.

Untunglah UNWTO dan UNESCO sudah banyak mengeluarkan sejumlah kode etik atau instrumen baik yang sifatnya deklarasi, rekomendasi, konvensi sehingga seluruh peserta kegiatan ini diarahkan untuk mengacu pada instumen yang sudah ada. Hasil akhirnya adalah arahan-arahan bagi pemerintah, swasta, masyarakat lokal dan stakeholders lainnya bagaimana sebaiknya mengembangkan pariwisata budaya yang dapat mengatasi kemiskinan di negara masing-masing.


Kemiskinan


Francesco Frangialli, Sekjen UNWTO mengatakan kenapa pariwisata bisa menjadi alat untuk mengentaskan kemiskinan baik oleh negara maju maupun berkembang? Selain mengentaskan kemiskinan memang menjadi salah satu agenda utama badan dunia itu, kenyataannya sektor pariwisata tetap tumbuh dengan baik meski diberbagai belahan dunia terjadi tsunami, terorisme, flu burung dan bencana lainnya.

Tahun lalu, misalnya jumlah wisatawan dunia mencapai 808 juta orang dengan pertumbuhan rata-rata di seluruh dunia mencapai 5,5%. Bahkan di Asia Pasifik, pertumbuhannya mencapai 7%. Akhir 2004 lalu Indonesia, Thailand, Maladewa dan Sri Lanka sama-sama terpukul oleh bencana tsunami bahkan di Indonesia disusul pula dengan gempa di Nias. Tapi setelah setahun bencana besar itu, pariwisatanya sudah bangkit lagi. Pariwisata sudah menjadi industri utama di banyak negara dan pada 2004 kontribusi pariwisata pada PDB dunia mencapai 10,4%, penyerapan tenaga kerja 8,1%, ekspor 12,2% dan penanaman modal 9,4%. Jadi pariwisata telah terbukti dan teruji menjadi motor penggerak ekonomi dan menciptakan lapangan kerja dan mensejahterakan masyarakat. Pariwisata adalah satu dari lima kategori ekspor utama dari 83% negara-negara di dunia dan menjadi sumber devisa utama sedikitnya 38% dari Negara-negara itu. Pariwisata akan terus tumbuh dengan baik dan UNWTO memproyeksikan pada 2020 akan ada 1,6 miliar wisman.

Menkokesra Aburizal Bakrie meminta peserta memahami peluang dan menggali potensi pariwisata budaya itu bagi masyarakat lokal.


Jangka panjang


Pengembangan pariwisata budaya bukan program jangka pendek tapi harus didukung dengan perencanaan yang matang untuk jangka panjang. Selain itu para pelaku, pengambil keputusan dan masyarakat harus mampu berkordinasi, bersinergi dan yang penting bagaimana mendorong swasta untuk ikut ambil bagian dan kebijakan serta strategi apa yang dibutuhkan.

Sedang Syahrir menilai keberhasilan suatu destinasi wisata sangat tergantung dari sikap masyarakatnya. Dari sisi keindahan dan keunikan, seharusnya Indonesia mampu meraup devisa yang besar dari pariwisata ketimbang Singapura tapi mengapa justru Singapuralah yang menikmati keuntungan dari wisatawan Indonesia?

Syahrir yang berasal dari Sumatra Barat juga mengajak peserta untuk berfikir kenapa Sumatra Barat tidak sepopuler Bali sebagai tujuan wisata padahal dari sisi keindahan pemandangan, budaya, makanan dan lainnya juga tidak kalah dibandingkan dengan Bali.

Dari berbagai uraian yang ada, akhirnya para peserta ICCT-LC yang diikuti 31 negara ini sepakat menerapkan instrumen-instrumen atau kode etik pengembangan wisata budaya misalnya UNESCO Universal Delacation on Cultural Diversity of 2001, UNESCO Convention for the safeguarding of intangible Cultural Heritage, 2003 dan The Hue Declaration on Cultural Tourism and Poversty Alleviation 2004 disamping Delarasi Yogyakarta.

ltulah sebabnya pemerintah dihimbau untuk mengalokasi dana yang cukup untuk SDM, termasuk pelatihan dan pendidikan bagi para pengambil keputusan, perencana, peneliti, tour operator hingga ke masyarakat lokal.

Sedang swasta dihimbau melakukan kerja sama dengan masyarakat lokal untuk mengoptimalkan konnibusi ekonomi pariwisata budaya, mempromosikan budaya lokal dengan tetap melindungi karakteristiknya dan mempertimbangkan kemampuan atau daya dukung nilai-nilai maupun objek yang ada.

Masih banyak himbauan yang ditujukan pada lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan stakeholders lainnya termasuk kalangan akademisi dan peranan media nasional maupun internasional untuk mempromosikan dan menyebarluaskan gambaran yang sesungguhnya dari pengembangan pariwisata budaya.***

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTPPOLBAN
OrganisasiPOLBAN
Nama KontakHelmi Purwanti
AlamatJl. Trsn. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon022 201 3789 ext. 168, 169, 239
Fax022 201 3889
E-mail Administratorhelmi.purwanti@polban.ac.id
E-mail CKOhelmi.purwanti@polban.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Editor: