Path: Top > Electronics Clipping > PARIWISATA

Hasil VoA Diminta Untuk Pariwisata

BISNIS INDONESIA, Jumat, 21 April 2006, Hal.T2
Clipping from JBPTPPOLBAN / 2012-02-18 15:07:25
Oleh : Hilda Sabrisulistyo , POLBAN
Dibuat : 2006-04-26, dengan 0 file

Keyword : visa on arrival, branding pariwisata

JAKARTA: Menbudpar Jero Wacik mengharapkan penghasilan negara dari visa on arrival (VoA) 2005 sebesar Rpl,l triliun segera dikembalikan untuk kegiatan kepariwisataan dan meningkatkan pelayanan imigrasi di sejumlah bandara utama.
"Penghasilan VoA yang menjadi pemasukan negara bukan pajak mencapai Rpl,l triliun tahun lalu. Dulu janjinya akan dikembalikan untuk membiayai aktivitas pariwisata sebesar 40%, imigrasi 40% dan sisanya ke Deplu," kata Jero Wacik ketika berdialog dengan pengurus Kadin, Selasa.

Pemerintah memberlakukan visa saat kedatangan (visa on arrival) terhadap wisatawan mancanegara yang tidak menerima fasilitas Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS) ke Indonesia mulai 1 Febuari 2004.

Pemberlakuan VoA sempat ditentang oleh kalangan industri pariwisata karena diberlakukan pada saat sektor pariwisata terpuruk.

BVKS diberikan kepada warga Thailand, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, Hong Kong, Macao, Cile, Maroko, Peru dan Vietnam. Sedangkan wisman dari negara-negara lain dikenakan biaya VoA sebesar US$10 untuk kunjungan selama tiga hari dan US$25 per orang untuk kunjungan selama 30 hari di indonesia.

Sejauh ini negara-negara yang dapat fasilitas VoA adalah Australia, Austria, Argentina, Belgia, Brasil, Kanada, Denmark, Mesir, Finlandia, Perancis, Jerman, Hongaria, lndia, Irlandia, Itali, Jepang, Korsel, Kuwait, Luxemburg, Maladewa, New Zealand, Norwegia, China, Polandia, Portugal, Qatar, Rusia, Saudi Arabia, Afsel, Spanyol, Swiss, Taiwan, UFA, Inggris, dan Amerika Serikat.

Menurut Menbudpar, pihaknya juga telah mengajukan 41 negara lainnya untuk mendapatkan fasilitas VoA termnasuk Belanda, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisman ke Indonesia yang tahun ini ditargetkan mencapai 5,5 juta orang dan devisa sebesar US$6 miliar.
"Kalau Depbudpar mendapat kucuran dana 40% dari Rp1,1 miliar itu berarti paling sedikit dapat Rp400 miliar, begitu pula imigrasi bisa membeli peralatan untuk kemudahan pelayanan di berbagai bandara internasional," tandasnya.

Bila hasil VoA dikembalikan, katanya, Depbudpar dapat membiayai program pariwisata terutama promosi di luar negeri sehingga pemulihan citra pariwisata akan berjalan lancar.


Branding pariwisata


Jero Wacik mengakui, branding pariwisata Indonesia yaitu Ultimate in Diversity kalah populer dengan branding Malaysia yaitu Trully Asia yang kerap tampil di televisi CNN dan TV nasional.
"Terus terang waktu baru dilantik jadi Menbudpar branding Ultimate in Diversity juga baru jadi dirancang oleh konsultan yang menciptakan Malaysia Trully Asia itu. Memang branding kita sulit didengar tapi saya sudah lapor Presiden dan beliau minta gunakan saja branding warisan sebelumnya," ungkap Jero Wacik.

Depbudpar kini melakukan evaluasi mengenai efektivitas branding tersebut untuk promosi pariwisata Indonesia di luar negri dan akan diganti bila. tersedia dari dan hasilnya memang kurang menjual.

Dalam kesempatan itu, Adnan Karamoy, Ketua Bidang Pariwisata Komite Pemulihan Ekonomi Nasional (KPEN) Kadin mengatakan hasil yang dicapai pariwisata Indonesia tahun lalu tetap positif.***

Deskripsi Alternatif :

JAKARTA: Menbudpar Jero Wacik mengharapkan penghasilan negara dari visa on arrival (VoA) 2005 sebesar Rpl,l triliun segera dikembalikan untuk kegiatan kepariwisataan dan meningkatkan pelayanan imigrasi di sejumlah bandara utama.
"Penghasilan VoA yang menjadi pemasukan negara bukan pajak mencapai Rpl,l triliun tahun lalu. Dulu janjinya akan dikembalikan untuk membiayai aktivitas pariwisata sebesar 40%, imigrasi 40% dan sisanya ke Deplu," kata Jero Wacik ketika berdialog dengan pengurus Kadin, Selasa.

Pemerintah memberlakukan visa saat kedatangan (visa on arrival) terhadap wisatawan mancanegara yang tidak menerima fasilitas Bebas Visa Kunjungan Singkat (BVKS) ke Indonesia mulai 1 Febuari 2004.

Pemberlakuan VoA sempat ditentang oleh kalangan industri pariwisata karena diberlakukan pada saat sektor pariwisata terpuruk.

BVKS diberikan kepada warga Thailand, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Filipina, Hong Kong, Macao, Cile, Maroko, Peru dan Vietnam. Sedangkan wisman dari negara-negara lain dikenakan biaya VoA sebesar US$10 untuk kunjungan selama tiga hari dan US$25 per orang untuk kunjungan selama 30 hari di indonesia.

Sejauh ini negara-negara yang dapat fasilitas VoA adalah Australia, Austria, Argentina, Belgia, Brasil, Kanada, Denmark, Mesir, Finlandia, Perancis, Jerman, Hongaria, lndia, Irlandia, Itali, Jepang, Korsel, Kuwait, Luxemburg, Maladewa, New Zealand, Norwegia, China, Polandia, Portugal, Qatar, Rusia, Saudi Arabia, Afsel, Spanyol, Swiss, Taiwan, UFA, Inggris, dan Amerika Serikat.

Menurut Menbudpar, pihaknya juga telah mengajukan 41 negara lainnya untuk mendapatkan fasilitas VoA termnasuk Belanda, sehingga diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisman ke Indonesia yang tahun ini ditargetkan mencapai 5,5 juta orang dan devisa sebesar US$6 miliar.
"Kalau Depbudpar mendapat kucuran dana 40% dari Rp1,1 miliar itu berarti paling sedikit dapat Rp400 miliar, begitu pula imigrasi bisa membeli peralatan untuk kemudahan pelayanan di berbagai bandara internasional," tandasnya.

Bila hasil VoA dikembalikan, katanya, Depbudpar dapat membiayai program pariwisata terutama promosi di luar negeri sehingga pemulihan citra pariwisata akan berjalan lancar.


Branding pariwisata


Jero Wacik mengakui, branding pariwisata Indonesia yaitu Ultimate in Diversity kalah populer dengan branding Malaysia yaitu Trully Asia yang kerap tampil di televisi CNN dan TV nasional.
"Terus terang waktu baru dilantik jadi Menbudpar branding Ultimate in Diversity juga baru jadi dirancang oleh konsultan yang menciptakan Malaysia Trully Asia itu. Memang branding kita sulit didengar tapi saya sudah lapor Presiden dan beliau minta gunakan saja branding warisan sebelumnya," ungkap Jero Wacik.

Depbudpar kini melakukan evaluasi mengenai efektivitas branding tersebut untuk promosi pariwisata Indonesia di luar negri dan akan diganti bila. tersedia dari dan hasilnya memang kurang menjual.

Dalam kesempatan itu, Adnan Karamoy, Ketua Bidang Pariwisata Komite Pemulihan Ekonomi Nasional (KPEN) Kadin mengatakan hasil yang dicapai pariwisata Indonesia tahun lalu tetap positif.***

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTPPOLBAN
OrganisasiPOLBAN
Nama KontakHelmi Purwanti
AlamatJl. Trsn. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon022 201 3789 ext. 168, 169, 239
Fax022 201 3889
E-mail Administratorhelmi.purwanti@polban.ac.id
E-mail CKOhelmi.purwanti@polban.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Editor: