Path: Top > Electronics Clipping > ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI > KIMIA, LINGKUNGAN & ENERGI

Diteliti, Penanganan Anak Tercemar Timbal

KOMPAS, Senin, 27 Maret 2006, Hal. 13
Clipping from JBPTPPOLBAN / 2013-12-16 14:03:02
Oleh : (INE) , POLBAN
Dibuat : 2006-04-03, dengan 0 file

Keyword : keracunan timbal

JAKARTA, KOMPAS - Selama penggunaan bensin bertimbal belum dihapuskan secara Nasional, anak-anak tetap rawan keracunan timbal (plumbum Pb). Untuk itu perlu penanganan lebih lanjut terhadap anak-anak yang hidup di tengah lingkungan udara beracun tersebut.



Berdasarkan penelitian yang dipresentasikan oleh Puji Lestari dari Institut Teknologi Bandung (lTB) dan Muhamad Khidri Alwi dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, kadar timbal dalam darah anak usia di bawah 12 tahun di Bandung dan Makassar memprihatinkan (Kompas, 23 Maret 2006).



Budi Haryanto, Ketua Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, mengungkapkan, Jumat (24/3), pihaknya telah merancang penelitian khusus tindak lanjut terhadap anak teracuni timbal. Penelitian tersebut dilaksanakan selama tiga bulan, mulai April 2006.
"Kami akan memberikan suplemen kalsium setiap hari terhadap 66 persen anak yang telah terbukti tercemar timbal dalam penelitian di Bandung tersebut. Sampel penelitian di Bandung sudah cukup representative," ujar Budi, yang juga ikut membantu dalam penelitian di Bandung itu.



Timbal merupakan zat racun yang sifatnya dapat terakumulasi di dalam tubuh. Semakin lama terpapar, kadar timbal dalam tubuh meninggi.



Untuk anak usia di bawah 12 tahun, menurut Budi, waktu tinggal timbal dalam tubuh berkisar 28-35 hari. "Jika anak dijauhkan dari paparan timbal, secara perlahan zat racun bagi tubuh itu akan keluar melalui urine atau feses. Masalahnya, ketika anak terpapar timbal terus-menerus, maka racun itu tertumpuk di dalam tubuh," ujarnya.***

Deskripsi Alternatif :

JAKARTA, KOMPAS - Selama penggunaan bensin bertimbal belum dihapuskan secara Nasional, anak-anak tetap rawan keracunan timbal (plumbum Pb). Untuk itu perlu penanganan lebih lanjut terhadap anak-anak yang hidup di tengah lingkungan udara beracun tersebut.



Berdasarkan penelitian yang dipresentasikan oleh Puji Lestari dari Institut Teknologi Bandung (lTB) dan Muhamad Khidri Alwi dari Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar, kadar timbal dalam darah anak usia di bawah 12 tahun di Bandung dan Makassar memprihatinkan (Kompas, 23 Maret 2006).



Budi Haryanto, Ketua Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia, mengungkapkan, Jumat (24/3), pihaknya telah merancang penelitian khusus tindak lanjut terhadap anak teracuni timbal. Penelitian tersebut dilaksanakan selama tiga bulan, mulai April 2006.
"Kami akan memberikan suplemen kalsium setiap hari terhadap 66 persen anak yang telah terbukti tercemar timbal dalam penelitian di Bandung tersebut. Sampel penelitian di Bandung sudah cukup representative," ujar Budi, yang juga ikut membantu dalam penelitian di Bandung itu.



Timbal merupakan zat racun yang sifatnya dapat terakumulasi di dalam tubuh. Semakin lama terpapar, kadar timbal dalam tubuh meninggi.



Untuk anak usia di bawah 12 tahun, menurut Budi, waktu tinggal timbal dalam tubuh berkisar 28-35 hari. "Jika anak dijauhkan dari paparan timbal, secara perlahan zat racun bagi tubuh itu akan keluar melalui urine atau feses. Masalahnya, ketika anak terpapar timbal terus-menerus, maka racun itu tertumpuk di dalam tubuh," ujarnya.***

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTPPOLBAN
OrganisasiPOLBAN
Nama KontakErlin Arvelina
AlamatJl. Trsn. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon022 201 3789 ext. 168, 169, 239
Fax022 201 3889
E-mail Administratorerlin.arvelina@polban.ac.id
E-mail CKOerlin.arvelina@polban.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Editor: