Path: Top > Electronics Clipping > ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI > KIMIA, LINGKUNGAN & ENERGI

Harga CPO Mulai Bergerak Naik Permintaan Biodiesel Menjadi Pendorong

KOMPAS, Rabu, 8 Maret 2006, Hal.22
Clipping from JBPTPPOLBAN / 2013-12-16 14:03:02
Oleh : (MAR), POLBAN
Dibuat : 2006-03-10, dengan 0 file

Keyword : CPO, minyak sawit, biodiesel

JAKARTA, KOMPAS - Harga minyak sawit mentah di pasar dunia mulai naik, dipicu permintaan dunia untuk keperluan biodiesel. Situasi itu menepis kecemasan beberapa kalangan di awal tahun ini yang memperkirakan harga CPO masih akan tertekan. Harga CPO diperkirakan bisa mencapai 1.600 ringgit (389 dollar AS) per ton.



Ketua Harian Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Derom Bangun di Jakarta, Selasa (7/3), mengatakan, penurunan produksi sudah terjadi pada November-Desember tahun lalu. Pasar tidak langsung merespons ketika itu, namun penurunan produksi baru direspons pada bulan Januari.
"Saat itu terdapat permintaan cukup besar, sementara produksi tidak bertambah sehingga harga mengalami kenaikan. Saat ini banyak permintaan untuk biodiesel. Saya memperkirakan kenaikan akan terus berlanjut sampai April," kata Derom.



Laporan dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) juga menyebutkan kenaikan permintaan minyak sawit mentah (CPO) oleh pasar dan penurunan produksi juga membuat harga naik selama bulan Februari. Akibatnya, harga CPO di salah satu bursa CPO, yaitu di Kuala Lumpur, Malaysia, naik dari 1.398 ringgit per ton pada Januari menjadi 1.445 ringgit per ton pada bulan Februari. Harga pada bulan Februari itu merupakan harga rata-rata tertinggi bulanan pada tahun 2005-2006 ini.



Derom mengatakan, ada kecenderungan harga akan naik pada beberapa bulan ke depan. Laporan dari lembaga internasional juga menyebutkan hal yang sama. CPO diperkirakan akan diperdagangkan pada harga 1.400 ringgit hingga 1.600 ringgit. Sejumlah analis menyebutkan harga akan mencapai 1.600 ringgit pada awal April tahun ini.



Meski demikian, kenaikan harga tidak terjadi di dalam negeri akibat menguatnya rupiah terhadap dollar AS.




Biodiesel




Derom mengatakan, kenaikan harga itu dipicu oleh penggunaan CPO untuk biodiesel di Belanda. Saat ini sejumlah pembangkit di Belanda mulai beroperasi. Di sisi lain, Jerman yang menggunakan canola untuk biodiesel terpaksa juga menaikkan impor CPO untuk menggantikan canola sebagai minyak konsumsi.



Permintaan akan mengalami kenaikan juga akibat pembebasan kuota oleh China. Negara ini termasuk salah satu importir CPO yang terbesar.



Sementara itu laporan penurunan produksi terjadi di Malaysia juga mengakibatkan peningkatan harga. Produksi Januari tahun ini lebih rendah 19 persen dibanding produksi pada bulan yang sama tahun lalu. Penurunan produksi terjadi akibat rendahnya produktivitas tanaman sejak November tahun lalu.



Kemungkinan penurunan produksi masih akan terjadi karena dugaan fenomena La Nina yang menyebabkan hujan yang lebat akan terjadi dalam waktu dekat. Akibatnya, banjir bisa merusak perkebunan.




Belum mencemaskan




Kenaikan permintaan CPO untuk biodiesel belum mencemaskan kalangan pengusaha minyak goreng di dalam negeri. Mereka memperkirakan penggunaan biodisel di dalam negeri baru akan terjadi beberapa tahun ke depan. Meski demikian perlu diantisipasi.



Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia Thomas Darmawan mengatakan, sampai saat ini penggunaan CPO untuk biodiesel di Indonesia tidak secepat di negara maju. "Permintaan CPO untuk minyak goreng masih kompetitif di Indonesia. Produksi minyak goreng tidak terganggu. Apalagi kita cenderung mengarahkan jarak untuk biodiesel," katanya.



Meski demikian, fenomena ini perlu diantisipasi. Problem yang dihadapi bila permintaan CPO untuk biodiesel dan minyak goreng naik adalah pengembangan lahan, bibit dengan produktivitas tinggi, dan suku bunga bank.
"Kalau biodiesel sudah komersial dan pemerintah sudah mengeluarkan standar penggunaan bahan-bahan untuk biodiesel, maka persaingan penggunaan CPO akan terjadi," ujar Thomas.



Thomas berharap departemen terkait mengantisipasi permintaan komoditas yang dikonversi menjadi bahan bakar alternatif seperti singkong, tetes, dan CPO. Begitu biodiesel sudah kompetitif, maka penggunaan energi itu akan cepat berkembang.***

Deskripsi Alternatif :

JAKARTA, KOMPAS - Harga minyak sawit mentah di pasar dunia mulai naik, dipicu permintaan dunia untuk keperluan biodiesel. Situasi itu menepis kecemasan beberapa kalangan di awal tahun ini yang memperkirakan harga CPO masih akan tertekan. Harga CPO diperkirakan bisa mencapai 1.600 ringgit (389 dollar AS) per ton.



Ketua Harian Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Derom Bangun di Jakarta, Selasa (7/3), mengatakan, penurunan produksi sudah terjadi pada November-Desember tahun lalu. Pasar tidak langsung merespons ketika itu, namun penurunan produksi baru direspons pada bulan Januari.
"Saat itu terdapat permintaan cukup besar, sementara produksi tidak bertambah sehingga harga mengalami kenaikan. Saat ini banyak permintaan untuk biodiesel. Saya memperkirakan kenaikan akan terus berlanjut sampai April," kata Derom.



Laporan dari Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) juga menyebutkan kenaikan permintaan minyak sawit mentah (CPO) oleh pasar dan penurunan produksi juga membuat harga naik selama bulan Februari. Akibatnya, harga CPO di salah satu bursa CPO, yaitu di Kuala Lumpur, Malaysia, naik dari 1.398 ringgit per ton pada Januari menjadi 1.445 ringgit per ton pada bulan Februari. Harga pada bulan Februari itu merupakan harga rata-rata tertinggi bulanan pada tahun 2005-2006 ini.



Derom mengatakan, ada kecenderungan harga akan naik pada beberapa bulan ke depan. Laporan dari lembaga internasional juga menyebutkan hal yang sama. CPO diperkirakan akan diperdagangkan pada harga 1.400 ringgit hingga 1.600 ringgit. Sejumlah analis menyebutkan harga akan mencapai 1.600 ringgit pada awal April tahun ini.



Meski demikian, kenaikan harga tidak terjadi di dalam negeri akibat menguatnya rupiah terhadap dollar AS.




Biodiesel




Derom mengatakan, kenaikan harga itu dipicu oleh penggunaan CPO untuk biodiesel di Belanda. Saat ini sejumlah pembangkit di Belanda mulai beroperasi. Di sisi lain, Jerman yang menggunakan canola untuk biodiesel terpaksa juga menaikkan impor CPO untuk menggantikan canola sebagai minyak konsumsi.



Permintaan akan mengalami kenaikan juga akibat pembebasan kuota oleh China. Negara ini termasuk salah satu importir CPO yang terbesar.



Sementara itu laporan penurunan produksi terjadi di Malaysia juga mengakibatkan peningkatan harga. Produksi Januari tahun ini lebih rendah 19 persen dibanding produksi pada bulan yang sama tahun lalu. Penurunan produksi terjadi akibat rendahnya produktivitas tanaman sejak November tahun lalu.



Kemungkinan penurunan produksi masih akan terjadi karena dugaan fenomena La Nina yang menyebabkan hujan yang lebat akan terjadi dalam waktu dekat. Akibatnya, banjir bisa merusak perkebunan.




Belum mencemaskan




Kenaikan permintaan CPO untuk biodiesel belum mencemaskan kalangan pengusaha minyak goreng di dalam negeri. Mereka memperkirakan penggunaan biodisel di dalam negeri baru akan terjadi beberapa tahun ke depan. Meski demikian perlu diantisipasi.



Ketua Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia Thomas Darmawan mengatakan, sampai saat ini penggunaan CPO untuk biodiesel di Indonesia tidak secepat di negara maju. "Permintaan CPO untuk minyak goreng masih kompetitif di Indonesia. Produksi minyak goreng tidak terganggu. Apalagi kita cenderung mengarahkan jarak untuk biodiesel," katanya.



Meski demikian, fenomena ini perlu diantisipasi. Problem yang dihadapi bila permintaan CPO untuk biodiesel dan minyak goreng naik adalah pengembangan lahan, bibit dengan produktivitas tinggi, dan suku bunga bank.
"Kalau biodiesel sudah komersial dan pemerintah sudah mengeluarkan standar penggunaan bahan-bahan untuk biodiesel, maka persaingan penggunaan CPO akan terjadi," ujar Thomas.



Thomas berharap departemen terkait mengantisipasi permintaan komoditas yang dikonversi menjadi bahan bakar alternatif seperti singkong, tetes, dan CPO. Begitu biodiesel sudah kompetitif, maka penggunaan energi itu akan cepat berkembang.***

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTPPOLBAN
OrganisasiPOLBAN
Nama KontakErlin Arvelina
AlamatJl. Trsn. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon022 201 3789 ext. 168, 169, 239
Fax022 201 3889
E-mail Administratorerlin.arvelina@polban.ac.id
E-mail CKOerlin.arvelina@polban.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Editor: