Path: Top > Electronics Clipping > PENDIDIKAN

Sambutan Khusus Bagi Tim Fisika RI, Jangan Langsung Diklaim Cerminan Mutu Pendidikan

KOMPAS, Senin, 17 Juli 2006, hal.12
Clipping from JBPTPPOLBAN / 2012-02-18 15:07:27
Oleh : (NAR), POLBAN
Dibuat : 2006-07-20, dengan 0 file

Keyword : Olimpiade Fisika Indonesia, prestasi

JAKARTA, KOMPAS - Tim Olimpiade Fisika Indonesia yang berhasil merebut juara dunia dalam Olimpiade Fisika Internasional di Singapura dijadwalkan tiba di Tanah Air, Senin (17/7) siang ini. Sebagai bentuk penghargaan atas prestasi tersebut, Depdiknas menyiapkan penyambutan secara khusus.
"Setelah disambut di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, mereka akan diantar ke Istana Merdeka guna diterima langsung oleh Presiden," ujar Bambang Wasito Adi, Kepala Pusat Informasi dan Humas Depdiknas, Minggu kemarin.

Bambang menilai, prestasi para pelajar tersebut patut disambut dengan rasa bangga oleh masyarakat Indonesia karena mereka berhasil mengangkat harkat bangsa di forum internasional. Hal itu membuktikan bahwa pelajar Indonesia pun bisa bersaing-bahkan bisa lebih unggul-dibandingkan pelajar dari negara-negara yang lebih maju.

Para pelajar yang dimaksud adalah Jonathan Pradana Mailoa (SMA Kristen 1 Penabur Jakarta), Irwan Ade Putra (SMA Negeri 1 Pekanbaru), Andy O Latief (SMA Negeri 1 Pamekasan), dan Pangus Ho (SMA Kristen 3 Penabur Jakarta). Keempatnya meraih medali emas. Adapun M Firmansyah Kasim (SMP Islam Athirah Makassar) meraih medali perak.

Kabar terakhir yang dikirimkan pembina Tim Olimpiade Fisika Indonesia Yohanes Surya menyebutkan, dalam kegiatan yang berlangsung di Nanyang Technology University Singapura tanggal 8 Juli-16 Juli tersebut, Indonesia, Amerika Serikat, dan Korea meraih empat emas. Taiwan kebagian tiga emas.

Dari sisi jumlah medali, China memang lebih unggul dari 85 negara peserta, karena pelajar mereka meraih lima emas. Namun dari sisi nilai "karat" emas, Indonesia lebih unggul dari semua negara peserta yang melibatkan 384 pelajar tersebut.

Salah satu dari empat pelajar peraih emas dari Indonesia, Jonathan Pradana Mailoa, mencatat nilai tertinggi dalam ujian teori dan eksperimen, yakni 29,7 dan 17,10. Angka ini lebih tinggi daripada andalan China, Yang Suo Long, yang mencatat nilai 29,6 (untuk teori) dan 16,45 (eksperimen). Karena menang mutlak dalam dua jenis ujian itulah, Jonathan tak sekadar mendapat medali emas, tapi juga mendapat gelar The Absolute Winner, sebuah pencapaian yang selama ini lazim diraih oleh pelajar China.

Menanggapi keberhasilan ini, guru besar kurikulum dari Universitas Pendidikan Indonesia, Said Hamid Hasan, mengingatkan agar prestasi pelajar dalam ajang olimpiade tidak serta-merta diklaim sebagai cerminan atas mutu dan prestasi di bidang pendidikan secara nasional.


Perlu introspeksi

"Tanpa mengurangi rasa bangga atas prestasi anak-anak itu, harus diakui bahwa prestasi mereka bukan sepenuhnya hasil dari proses pembelajaran reguler di sekolah. Itu semua lebih karena pembinaan intensif di luar ruang kelas secara terus-menerus dengan materi yang lebih fokus untuk kompetisi. Artinya, itu bukan sepenuhnya hasil dari layanan pendidikan yang diprogramkan pemerintah untuk masyarakat umum selama ini," katanya.

Dalam hal ini, Said melihat peran serta orangtua murid bersangkutan dalam mendorong dan mengarahkan potensi putra-putrinya jauh lebih utama, termasuk membiayai pelatihan di luar kelas. Rasa bangga tersebut harus dimanifestasikan dalam bentuk introspeksi oleh pemerintah untuk makin meningkatkan perhatian dalam penyediaan sarana belajar yang memadai dan merata di semua wilayah.
"Tak kalah pentingnya adalah bagaimana agar siswa yang berprestasi tersebut diberi rangsangan untuk kelak menyumbangkan potensinya bagi pengembangan ilmu pengetahuan di Tanah Air," kata Said.***

Deskripsi Alternatif :

JAKARTA, KOMPAS - Tim Olimpiade Fisika Indonesia yang berhasil merebut juara dunia dalam Olimpiade Fisika Internasional di Singapura dijadwalkan tiba di Tanah Air, Senin (17/7) siang ini. Sebagai bentuk penghargaan atas prestasi tersebut, Depdiknas menyiapkan penyambutan secara khusus.
"Setelah disambut di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, mereka akan diantar ke Istana Merdeka guna diterima langsung oleh Presiden," ujar Bambang Wasito Adi, Kepala Pusat Informasi dan Humas Depdiknas, Minggu kemarin.

Bambang menilai, prestasi para pelajar tersebut patut disambut dengan rasa bangga oleh masyarakat Indonesia karena mereka berhasil mengangkat harkat bangsa di forum internasional. Hal itu membuktikan bahwa pelajar Indonesia pun bisa bersaing-bahkan bisa lebih unggul-dibandingkan pelajar dari negara-negara yang lebih maju.

Para pelajar yang dimaksud adalah Jonathan Pradana Mailoa (SMA Kristen 1 Penabur Jakarta), Irwan Ade Putra (SMA Negeri 1 Pekanbaru), Andy O Latief (SMA Negeri 1 Pamekasan), dan Pangus Ho (SMA Kristen 3 Penabur Jakarta). Keempatnya meraih medali emas. Adapun M Firmansyah Kasim (SMP Islam Athirah Makassar) meraih medali perak.

Kabar terakhir yang dikirimkan pembina Tim Olimpiade Fisika Indonesia Yohanes Surya menyebutkan, dalam kegiatan yang berlangsung di Nanyang Technology University Singapura tanggal 8 Juli-16 Juli tersebut, Indonesia, Amerika Serikat, dan Korea meraih empat emas. Taiwan kebagian tiga emas.

Dari sisi jumlah medali, China memang lebih unggul dari 85 negara peserta, karena pelajar mereka meraih lima emas. Namun dari sisi nilai "karat" emas, Indonesia lebih unggul dari semua negara peserta yang melibatkan 384 pelajar tersebut.

Salah satu dari empat pelajar peraih emas dari Indonesia, Jonathan Pradana Mailoa, mencatat nilai tertinggi dalam ujian teori dan eksperimen, yakni 29,7 dan 17,10. Angka ini lebih tinggi daripada andalan China, Yang Suo Long, yang mencatat nilai 29,6 (untuk teori) dan 16,45 (eksperimen). Karena menang mutlak dalam dua jenis ujian itulah, Jonathan tak sekadar mendapat medali emas, tapi juga mendapat gelar The Absolute Winner, sebuah pencapaian yang selama ini lazim diraih oleh pelajar China.

Menanggapi keberhasilan ini, guru besar kurikulum dari Universitas Pendidikan Indonesia, Said Hamid Hasan, mengingatkan agar prestasi pelajar dalam ajang olimpiade tidak serta-merta diklaim sebagai cerminan atas mutu dan prestasi di bidang pendidikan secara nasional.


Perlu introspeksi

"Tanpa mengurangi rasa bangga atas prestasi anak-anak itu, harus diakui bahwa prestasi mereka bukan sepenuhnya hasil dari proses pembelajaran reguler di sekolah. Itu semua lebih karena pembinaan intensif di luar ruang kelas secara terus-menerus dengan materi yang lebih fokus untuk kompetisi. Artinya, itu bukan sepenuhnya hasil dari layanan pendidikan yang diprogramkan pemerintah untuk masyarakat umum selama ini," katanya.

Dalam hal ini, Said melihat peran serta orangtua murid bersangkutan dalam mendorong dan mengarahkan potensi putra-putrinya jauh lebih utama, termasuk membiayai pelatihan di luar kelas. Rasa bangga tersebut harus dimanifestasikan dalam bentuk introspeksi oleh pemerintah untuk makin meningkatkan perhatian dalam penyediaan sarana belajar yang memadai dan merata di semua wilayah.
"Tak kalah pentingnya adalah bagaimana agar siswa yang berprestasi tersebut diberi rangsangan untuk kelak menyumbangkan potensinya bagi pengembangan ilmu pengetahuan di Tanah Air," kata Said.***

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTPPOLBAN
OrganisasiPOLBAN
Nama KontakHelmi Purwanti
AlamatJl. Trsn. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon022 201 3789 ext. 168, 169, 239
Fax022 201 3889
E-mail Administratorhelmi.purwanti@polban.ac.id
E-mail CKOhelmi.purwanti@polban.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Editor: