Path: Top > Electronics Clipping > ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI > KIMIA, LINGKUNGAN & ENERGI

Pabrik Biodiesel Jarak bagi Nelayan : Harga Setelah Dicampur Solar Rp 3.800 per Liter

KOMPAS, Sabtu, 18 Februari 2006, Hal. 22
Clipping from JBPTPPOLBAN / 2013-12-16 14:03:02
Oleh : (OSA/WSI/MAR), POLBAN
Dibuat : 2006-02-20, dengan 0 file

Keyword : Minyak jarak, biodiesel

CILACAP, KOMPAS - Untuk pertama kalinya di Indonesia, pabrik biodiesel dengan bahan baku biji jarak khusus untuk memenuhi kebutuhan nelayan diresmikan di Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (17/2). Energi alternatif ini diperkirakan mampu mengurangi beban nelayan terhadap makin tingginya biaya melaut.



Departemen Perikanan dan Kelautan (DKP) menyebut pabrik pengolah biji jarak (Jatropha curcas) sederhana itu sebagai Proyek Perintis. Desa Nelayan Mandiri. Luas lahan diperkirakan mencapai 60 hektar.



Di hadapan para nelayan dalam acara sedekah laut, Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi mengatakan, proyek ini adalah langkah awal untuk mengentaskan kemiskinan.
"Biji jarak pasti akan menambah income, sekaligus menekan biaya kebutuhan bahan bakar untuk melaut. Nelayan tidak lagi harus menggunakan solar," kata Freddy.



Mesin pengolah biji jarak bernilai Rp 50 juta itu dapat menghasilkan 100 liter per shift (lima jam). Jika dalam sehari dilakukan tiga shift, mesin itu dapat menghasilkan 300 liter biodiesel.



Sesuai dengan Inpres Nomor 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (biofuel) Sebagai Bahan Bakar Lain, nelayan bisa mencampurkan minyak jarak dan solar untuk melaut. Dalam uji coba kemarin, Freddy mencampurkan minyak jarak dan solar dengan perbandingan 10:90 persen.
"Saya harap, biji jarak tidak dijadikan komoditas perdagangan. Sebab, nelayan juga yang akan susah mendapatkan bahan bakar murah," ujar Freddy.



Sebagai perbandingan, harga biji jarak Rp 500 per kilogram. Tiga kilogram biji jarak dapat menghasilkan satu liter minyak jarak. Total harga produksinya Rp 2.800 per liter. Setelah dicampur solar sesuai ukuran tertentu, harga biodiesel cuma Rp 3.800 per liter. Sementara itu, harga solar nelayan Rp 5.400 per liter.



Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan DKP Indroyono Soesilo mengatakan, "Biodiesel untuk nelayan ini baru pertama kalinya di Indonesia. Energi alternatif harus dikembangkan."



Menurut dia, bahan baku tetap menjadi modal utama. Belakangan ini Jepang membidik biji jarak Indonesia untuk meningkatkan produksi biodieselnya. Bahkan, lokasinya sudah diincar Jepang.




Sepakat




PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) dan Pemerintah Daerah Provinsi Bengkulu sepakat untuk mengembangkan budidaya tanaman jarak, sekaligus membangun pabrik pengolahannya. Kesepakatan diwujudkan lewat penandatanganan nota kesepahaman di Jakarta, kemarin.



Direktur Pengembangan Usaha PT RNI Son Ramadir mengatakan, bahan bakar merupakan faktor cukup dominan dalam mengoperasikan pabrik gula. Walaupun bahan bakar utama dapat dipenuhi dari bagase, namun suplai bahan bakar minyak (BBM) tetap dibutuhkan.



Gubernur Provinsi Bengkulu, Agusrin M Najamudin mengatakan, kerja sama dengan RNI telah menjadikan Pemda Bengkulu selangkah lebih maju. Sebab, sebelumnya telah kejra sama pengembangan jarak dengan pihak lain. Namun, sebatas penanaman dan pengumpulan biji jarak.
"Target kami tidak muluk-muluk. Dalam waktu tidak lama lagi kami harapkan masyarakat Bengkulu tidak perlu lagi mengantre minyak tanah," ujar Agusrin.

Deskripsi Alternatif :

CILACAP, KOMPAS - Untuk pertama kalinya di Indonesia, pabrik biodiesel dengan bahan baku biji jarak khusus untuk memenuhi kebutuhan nelayan diresmikan di Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (17/2). Energi alternatif ini diperkirakan mampu mengurangi beban nelayan terhadap makin tingginya biaya melaut.



Departemen Perikanan dan Kelautan (DKP) menyebut pabrik pengolah biji jarak (Jatropha curcas) sederhana itu sebagai Proyek Perintis. Desa Nelayan Mandiri. Luas lahan diperkirakan mencapai 60 hektar.



Di hadapan para nelayan dalam acara sedekah laut, Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi mengatakan, proyek ini adalah langkah awal untuk mengentaskan kemiskinan.
"Biji jarak pasti akan menambah income, sekaligus menekan biaya kebutuhan bahan bakar untuk melaut. Nelayan tidak lagi harus menggunakan solar," kata Freddy.



Mesin pengolah biji jarak bernilai Rp 50 juta itu dapat menghasilkan 100 liter per shift (lima jam). Jika dalam sehari dilakukan tiga shift, mesin itu dapat menghasilkan 300 liter biodiesel.



Sesuai dengan Inpres Nomor 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (biofuel) Sebagai Bahan Bakar Lain, nelayan bisa mencampurkan minyak jarak dan solar untuk melaut. Dalam uji coba kemarin, Freddy mencampurkan minyak jarak dan solar dengan perbandingan 10:90 persen.
"Saya harap, biji jarak tidak dijadikan komoditas perdagangan. Sebab, nelayan juga yang akan susah mendapatkan bahan bakar murah," ujar Freddy.



Sebagai perbandingan, harga biji jarak Rp 500 per kilogram. Tiga kilogram biji jarak dapat menghasilkan satu liter minyak jarak. Total harga produksinya Rp 2.800 per liter. Setelah dicampur solar sesuai ukuran tertentu, harga biodiesel cuma Rp 3.800 per liter. Sementara itu, harga solar nelayan Rp 5.400 per liter.



Kepala Badan Riset Kelautan dan Perikanan DKP Indroyono Soesilo mengatakan, "Biodiesel untuk nelayan ini baru pertama kalinya di Indonesia. Energi alternatif harus dikembangkan."



Menurut dia, bahan baku tetap menjadi modal utama. Belakangan ini Jepang membidik biji jarak Indonesia untuk meningkatkan produksi biodieselnya. Bahkan, lokasinya sudah diincar Jepang.




Sepakat




PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) dan Pemerintah Daerah Provinsi Bengkulu sepakat untuk mengembangkan budidaya tanaman jarak, sekaligus membangun pabrik pengolahannya. Kesepakatan diwujudkan lewat penandatanganan nota kesepahaman di Jakarta, kemarin.



Direktur Pengembangan Usaha PT RNI Son Ramadir mengatakan, bahan bakar merupakan faktor cukup dominan dalam mengoperasikan pabrik gula. Walaupun bahan bakar utama dapat dipenuhi dari bagase, namun suplai bahan bakar minyak (BBM) tetap dibutuhkan.



Gubernur Provinsi Bengkulu, Agusrin M Najamudin mengatakan, kerja sama dengan RNI telah menjadikan Pemda Bengkulu selangkah lebih maju. Sebab, sebelumnya telah kejra sama pengembangan jarak dengan pihak lain. Namun, sebatas penanaman dan pengumpulan biji jarak.
"Target kami tidak muluk-muluk. Dalam waktu tidak lama lagi kami harapkan masyarakat Bengkulu tidak perlu lagi mengantre minyak tanah," ujar Agusrin.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTPPOLBAN
OrganisasiPOLBAN
Nama KontakHelmi Purwanti
AlamatJl. Trsn. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon022 201 3789 ext. 168, 169, 239
Fax022 201 3889
E-mail Administratorhelmi.purwanti@polban.ac.id
E-mail CKOhelmi.purwanti@polban.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Editor: