Path: Top > Electronics Clipping > ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI > KIMIA, LINGKUNGAN & ENERGI

Giliran Sekam untuk Bahan Bakar Alternatif

WARTA PENELITIAN PERTANIAN, Vol.28, No.2, 2006
Clipping from JBPTPPOLBAN / 2013-12-16 14:03:02
Oleh : Ridwan Rahmat, POLBAN
Dibuat : 2006-09-14, dengan 1 file

Keyword : bahan bakar sekam, minyak tanah, batu bara, limbah sekam, penggilingan padi, sumber energi panas, arang sekam, pengeringan gabah

Suatu pemandangan yang lazim kita temukan di sekitar penggilingan padi adalah gunungan sekam yang makin lama makin tinggi, tidak dimanfaatkan. Penelitian untuk memanfaatkan sekam sebenarnya telah dilaksanakan sejak lebih 15 tahun lalu, tetapi hasil penelitian itu tidak dilirik siapa pun. Pasalnya, kita masih dimanja dengan melimpahnya minyak tanah sebagai bahan bakar. Kini, ketika minyak tanah makin mahal, saatnya kita manfaatkan sekam sebagai bahan bakar sekaligus membebaskan penggilingan padi dari limbah sekam sebagai limbah penggilingan padi jumlahnya mencapai 20-23% dari gabah. Jika produksi gabah kering giling (GKG) menurut press release Badan Pusat Statistik 1 November 2005 sekitar 54 juta ton maka jumlah sekam yang dihasilkan lebih dari 10,8 juta ton. Pemanfaatan sekam memang masih sangat terbatas, antara lain sebagai media tanaman hias, pembakaran bata merah, alas pada peti telur, dan keperluan lokal yang masih sangat sedikit. Oleh karena itu, gunungan sekam menjadi pemandangan yang biasa di sekitar lokasi penggilingan padi dan diduga dapat menimbulkan masalah bagi lingkungan sekitar.




Melihat potensi yang besar pada sekam, sangat memungkinkan untuk memasyarakatkan penggunaan sekam sebagai bahan bakar untuk rumah tangga dan warung sebagai pengganti energi kayu atau minyak tanah. Nilai energi sekam memang lebih rendah dibanding briket batu bara muda yang mengandung energi 5.500 kkal/kg, minyak tanah 8.900 kkal/l, dan elpiji 11.900 kkal/kg, sedangkan panas pembakaran sekam hanya sekitar 3.300 kkal.




Dilihat dari perbandingan harga saat ini, biaya konsumsi elpiji sekitar Rp5.000/kg, minyak tanah Rp2.500/l, dan briket batu bara Rp2.000/kg, sedangkan sekam relatif tidak memiliki nilai jual atau hanya sekitar Rp400 tiap karung berbobot 20 kg. Dengan demikian penggunaan sekam sangat prospektif sebagai sumber energi panas karena memberi nilai ekonomis dan membantu menekan terjadinya gangguan lingkungan terutama di sekitar penggilingan padi. Untuk memanfaatkan sekam, terdapat beberapa hasil penelitian yang meliputi sekam sebagai bahan bakar kompor, sekam untuk pengeringan gabah, dan briket arang sekam untuk bahan bakar rumah tangga.

Deskripsi Alternatif :

Suatu pemandangan yang lazim kita temukan di sekitar penggilingan padi adalah gunungan sekam yang makin lama makin tinggi, tidak dimanfaatkan. Penelitian untuk memanfaatkan sekam sebenarnya telah dilaksanakan sejak lebih 15 tahun lalu, tetapi hasil penelitian itu tidak dilirik siapa pun. Pasalnya, kita masih dimanja dengan melimpahnya minyak tanah sebagai bahan bakar. Kini, ketika minyak tanah makin mahal, saatnya kita manfaatkan sekam sebagai bahan bakar sekaligus membebaskan penggilingan padi dari limbah sekam sebagai limbah penggilingan padi jumlahnya mencapai 20-23% dari gabah. Jika produksi gabah kering giling (GKG) menurut press release Badan Pusat Statistik 1 November 2005 sekitar 54 juta ton maka jumlah sekam yang dihasilkan lebih dari 10,8 juta ton. Pemanfaatan sekam memang masih sangat terbatas, antara lain sebagai media tanaman hias, pembakaran bata merah, alas pada peti telur, dan keperluan lokal yang masih sangat sedikit. Oleh karena itu, gunungan sekam menjadi pemandangan yang biasa di sekitar lokasi penggilingan padi dan diduga dapat menimbulkan masalah bagi lingkungan sekitar.




Melihat potensi yang besar pada sekam, sangat memungkinkan untuk memasyarakatkan penggunaan sekam sebagai bahan bakar untuk rumah tangga dan warung sebagai pengganti energi kayu atau minyak tanah. Nilai energi sekam memang lebih rendah dibanding briket batu bara muda yang mengandung energi 5.500 kkal/kg, minyak tanah 8.900 kkal/l, dan elpiji 11.900 kkal/kg, sedangkan panas pembakaran sekam hanya sekitar 3.300 kkal.




Dilihat dari perbandingan harga saat ini, biaya konsumsi elpiji sekitar Rp5.000/kg, minyak tanah Rp2.500/l, dan briket batu bara Rp2.000/kg, sedangkan sekam relatif tidak memiliki nilai jual atau hanya sekitar Rp400 tiap karung berbobot 20 kg. Dengan demikian penggunaan sekam sangat prospektif sebagai sumber energi panas karena memberi nilai ekonomis dan membantu menekan terjadinya gangguan lingkungan terutama di sekitar penggilingan padi. Untuk memanfaatkan sekam, terdapat beberapa hasil penelitian yang meliputi sekam sebagai bahan bakar kompor, sekam untuk pengeringan gabah, dan briket arang sekam untuk bahan bakar rumah tangga.

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTPPOLBAN
OrganisasiPOLBAN
Nama KontakErlin Arvelina
AlamatJl. Trsn. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon022 201 3789 ext. 168, 169, 239
Fax022 201 3889
E-mail Administratorerlin.arvelina@polban.ac.id
E-mail CKOerlin.arvelina@polban.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • , Editor:

Download...