Path: Top > Electronics Clipping > ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI > TEKNIK SIPIL

Meningkatkan Ketahanan Gempa Rumah Tinggal

KOMPAS, Jumat, 2 Juni 2006, Hal.41
Clipping from JBPTPPOLBAN / 2013-12-16 14:03:51
Oleh : Saptono Istiawan, POLBAN
Dibuat : 2006-06-02, dengan 0 file

Keyword : gempa, efek sekunder, bangunan

Setelah gempa di Yogyakarta, Sabtu (27/5) lalu, kini sudah tidak bisa lagi menganggap bencana semacam ini mustahil terjadi di sekitar kita.



Sebenarnya gempanya sendiri tidak begitu berbahaya, tetapi yang bahaya adalah efek sekundernya, yaitu robohan bangunan yang menimpa penghuninya. Karena itu, walau gempanya sendiri tidak bisa diprediksi di mana, seberapa kuat, dan kapan terjadi, kita masih bisa mengurangi bahayanya dengan memperbaiki sifat tahan gempa dari bangunan rumah tinggal kita.



Untuk bangunan besar, seperti apartemen bertingkat banyak maupun gedung pencakar langit, perancangannya selalu diawasi dengan ketat oleh yang berwenang soal ketahanan terhadap gempa. Sampai batas tertentu besaran gempa, bangunan-bangunan besar masih mampu berdiri. Atau paling tidak masih bisa memberikan kesempatan bagi penghuninya lari keluar mencari keselamatan.



Untuk bangunan-bangunan yang relatif lebih kecil, seperti rumah tinggal, pemiliknya harus berinisiatif mengantisipasi gempa. Bagi bangunan yang akan dibangun barangkali sudah saatnya memikirkan soal ini. Beberapa pihak mulai meneliti bangunan tradisional yang banyak bertebaran di seluruh nusantara yang terbukti tahan gempa.



Bagaimana dengan bangunan yang sudah telanjur dibangun dan dihuni yang berdiri di daerah yang menurut peta gempa Indonesia rawan gempa serta tidak dirancang dan dibangun dengan persyaratan gempa? Apakah harus dirobohkan, kemudian dibangun kembali supaya lebih aman dalam menghadapi kemungkinan gempa? Tentu tidak mungkin, sebab biaya membangun rumah sangat tinggi.



Cara yang masuk akal ialah dengan memperkuat rumah kita sedemikan rupa, sehingga apabila terjadi gempa, kerusakan yang terjadi minim atau paling tidak masih bisa memberikan kesempatan bagi penghuninya untuk keluar dengap selamat.



Bagaimana caranya? Tentu harus dibuat penyelidikan dan penelitian mendalam serta melibatkan banyak ahli, seperti arsitek, ahli struktur, ahli gempa, dan sebagainya. Namun, pada dasarnya bisa dijelaskan, bangunan-bangunan rumah tinggal, terutama yang menggunakan bata dan beton, umumnya konstruksinya dirancang untuk menahan beban gaya tarik bumi.



Kebanyakan tidak memperhitungkan beban yang bersifat horizontal atau vertikal yang bersifat dinamis, seperti yang ditimbulkan gempa. Dinding bata, umpamanya, sangat kuat menahan beban gravitasi, tetapi tidak begitu kokoh dengan gaya menyamping.



Jadi, di sini prinsip penguatannya untuk menambah kekuatan konstruksi rumah kita terhadap gaya-gaya non-gravitasi dengan dengan cara mengohesikan struktur. Artinya, setiap bagian konstruksi rumah Anda, apa pun jenis dan ukurannya, dibuat lebih menyatu. Dengan demikian, akan lebih bertahan bila menyatu daripada kalau setiap bagian bekerja sendiri-sendiri. Dinding bata, misalnya, akan lebih kokoh bila menyatu dengan baik dengan kuda-kuda.



Beberapa tips di bawah ini bisa menjadi bahan tambahan untuk menghadapi gempa.



1. Dipikirkan agar ada beberapa pintu atau jendela di rumah Anda yang bisa dibuat sebagai jalan keluar cepat dalam keadaan darurat. Beri tahu setiap anggota keluarga/penghuni rumah untuk menggunakan tempat keluar ini bila terjadi sesuatu.



2. InstaIasi listrik dan gas (kalau ada) dibuat sedemikian rupa supaya tidak menambah bahaya dalam keadaan darurat.



3. Latihan dalam menghadapi gempa juga sesuatu ide yang baik, meski cuma dalam skala sebuah keluarga. Meja makan, misalnya, bisa digunakan untuk perlindungan sementara.



4. Barangkali juga ide seorang arsitek Donald Mc Donald dari San Francisco, California, AS, bisa diterapkan di sini. Buat tempat tidur berkanopi (seperti penggantung kelambu) yang cukup kokoh, yang bisa menambah perlindungan dari runtuhan atap rumah. Dengan demikian, Anda bisa tidur lebih nyenyak.



5. Usahakan secara bersama-sama, dalam satu kelurahan, misalnya, untuk mendapatkan peta gempa dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Departemen Perhubungan yang menjelaskan secara detail situasi potensi gempa di tempat rumah Anda berdiri dan mintalah penjelasan-penjelasan sebanyak mungkin mengenai kemungkinan gempanya (bisa juga didapatkan melalui internet di situs http://www.bmg.go.id). Kepala Stasiun Geofisika Bandung Hendri Subekti, misalnya, dalam sebuah acara di sebuah stasiun televisi swasta, Minggu, 28 Mei 2006, mengatakan bahwa ada satu garis patahan gempa (sesar) yang membentang dari Lembang hingga Kota Garut. Persis seperti yang ada di Kota Liwa, Provinsi Lampung, di mana potensi gempa sangat besar, sementara banyak berdiri rumah-rumah tinggal di sana.



6. Usahakanlah sedemikian rupa, kalaupun terjadi gempa, mudah-mudahan tak pernah, selalu tersedia persediaan air bersih untuk keluarga yang bisa dipergunakan dalam beberapa hari, karena umumnya sesudah kejadian bencana yang hebat, seperti di Aceh dan Yogyakarta, air bersih akan susah didapat.***

Deskripsi Alternatif :

Setelah gempa di Yogyakarta, Sabtu (27/5) lalu, kini sudah tidak bisa lagi menganggap bencana semacam ini mustahil terjadi di sekitar kita.



Sebenarnya gempanya sendiri tidak begitu berbahaya, tetapi yang bahaya adalah efek sekundernya, yaitu robohan bangunan yang menimpa penghuninya. Karena itu, walau gempanya sendiri tidak bisa diprediksi di mana, seberapa kuat, dan kapan terjadi, kita masih bisa mengurangi bahayanya dengan memperbaiki sifat tahan gempa dari bangunan rumah tinggal kita.



Untuk bangunan besar, seperti apartemen bertingkat banyak maupun gedung pencakar langit, perancangannya selalu diawasi dengan ketat oleh yang berwenang soal ketahanan terhadap gempa. Sampai batas tertentu besaran gempa, bangunan-bangunan besar masih mampu berdiri. Atau paling tidak masih bisa memberikan kesempatan bagi penghuninya lari keluar mencari keselamatan.



Untuk bangunan-bangunan yang relatif lebih kecil, seperti rumah tinggal, pemiliknya harus berinisiatif mengantisipasi gempa. Bagi bangunan yang akan dibangun barangkali sudah saatnya memikirkan soal ini. Beberapa pihak mulai meneliti bangunan tradisional yang banyak bertebaran di seluruh nusantara yang terbukti tahan gempa.



Bagaimana dengan bangunan yang sudah telanjur dibangun dan dihuni yang berdiri di daerah yang menurut peta gempa Indonesia rawan gempa serta tidak dirancang dan dibangun dengan persyaratan gempa? Apakah harus dirobohkan, kemudian dibangun kembali supaya lebih aman dalam menghadapi kemungkinan gempa? Tentu tidak mungkin, sebab biaya membangun rumah sangat tinggi.



Cara yang masuk akal ialah dengan memperkuat rumah kita sedemikan rupa, sehingga apabila terjadi gempa, kerusakan yang terjadi minim atau paling tidak masih bisa memberikan kesempatan bagi penghuninya untuk keluar dengap selamat.



Bagaimana caranya? Tentu harus dibuat penyelidikan dan penelitian mendalam serta melibatkan banyak ahli, seperti arsitek, ahli struktur, ahli gempa, dan sebagainya. Namun, pada dasarnya bisa dijelaskan, bangunan-bangunan rumah tinggal, terutama yang menggunakan bata dan beton, umumnya konstruksinya dirancang untuk menahan beban gaya tarik bumi.



Kebanyakan tidak memperhitungkan beban yang bersifat horizontal atau vertikal yang bersifat dinamis, seperti yang ditimbulkan gempa. Dinding bata, umpamanya, sangat kuat menahan beban gravitasi, tetapi tidak begitu kokoh dengan gaya menyamping.



Jadi, di sini prinsip penguatannya untuk menambah kekuatan konstruksi rumah kita terhadap gaya-gaya non-gravitasi dengan dengan cara mengohesikan struktur. Artinya, setiap bagian konstruksi rumah Anda, apa pun jenis dan ukurannya, dibuat lebih menyatu. Dengan demikian, akan lebih bertahan bila menyatu daripada kalau setiap bagian bekerja sendiri-sendiri. Dinding bata, misalnya, akan lebih kokoh bila menyatu dengan baik dengan kuda-kuda.



Beberapa tips di bawah ini bisa menjadi bahan tambahan untuk menghadapi gempa.



1. Dipikirkan agar ada beberapa pintu atau jendela di rumah Anda yang bisa dibuat sebagai jalan keluar cepat dalam keadaan darurat. Beri tahu setiap anggota keluarga/penghuni rumah untuk menggunakan tempat keluar ini bila terjadi sesuatu.



2. InstaIasi listrik dan gas (kalau ada) dibuat sedemikian rupa supaya tidak menambah bahaya dalam keadaan darurat.



3. Latihan dalam menghadapi gempa juga sesuatu ide yang baik, meski cuma dalam skala sebuah keluarga. Meja makan, misalnya, bisa digunakan untuk perlindungan sementara.



4. Barangkali juga ide seorang arsitek Donald Mc Donald dari San Francisco, California, AS, bisa diterapkan di sini. Buat tempat tidur berkanopi (seperti penggantung kelambu) yang cukup kokoh, yang bisa menambah perlindungan dari runtuhan atap rumah. Dengan demikian, Anda bisa tidur lebih nyenyak.



5. Usahakan secara bersama-sama, dalam satu kelurahan, misalnya, untuk mendapatkan peta gempa dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Departemen Perhubungan yang menjelaskan secara detail situasi potensi gempa di tempat rumah Anda berdiri dan mintalah penjelasan-penjelasan sebanyak mungkin mengenai kemungkinan gempanya (bisa juga didapatkan melalui internet di situs http://www.bmg.go.id). Kepala Stasiun Geofisika Bandung Hendri Subekti, misalnya, dalam sebuah acara di sebuah stasiun televisi swasta, Minggu, 28 Mei 2006, mengatakan bahwa ada satu garis patahan gempa (sesar) yang membentang dari Lembang hingga Kota Garut. Persis seperti yang ada di Kota Liwa, Provinsi Lampung, di mana potensi gempa sangat besar, sementara banyak berdiri rumah-rumah tinggal di sana.



6. Usahakanlah sedemikian rupa, kalaupun terjadi gempa, mudah-mudahan tak pernah, selalu tersedia persediaan air bersih untuk keluarga yang bisa dipergunakan dalam beberapa hari, karena umumnya sesudah kejadian bencana yang hebat, seperti di Aceh dan Yogyakarta, air bersih akan susah didapat.***

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTPPOLBAN
OrganisasiPOLBAN
Nama KontakHelmi Purwanti
AlamatJl. Trsn. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon022 201 3789 ext. 168, 169, 239
Fax022 201 3889
E-mail Administratorhelmi.purwanti@polban.ac.id
E-mail CKOhelmi.purwanti@polban.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Editor: