Path: Top > Electronics Clipping > ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI > KIMIA, LINGKUNGAN & ENERGI

Enam Industri Sudah Berhasil Menghemat

KOMPAS, Selasa, 8 Februari 2006, Hal.12
Clipping from JBPTPPOLBAN / 2013-12-16 14:03:02
Oleh : (YUN), POLBAN
Dibuat : 2006-02-09, dengan 0 file

Keyword : Efisiensi energi

JAKARTA, KOMPAS - Program Produksi Bersih dan Efisiensi Energi yang telah dirintis sejak 2003 di enam industri di Indonesia telah menghasilkan penghematan energi signifikan hingga Rp 14 miliar per tahun.



Penurunan konsumsi energi terutama energi fosil akan menekan pula pencemaran gas rumah kaca. Karena itu program ini hendaknya dapat direplikasi pada industri lainnya, dan menjadi kriteria dalam memperoleh Proper Kategori Hijau.



Hal ini disampaikan Deputi Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup, Masneliyarti Hilman, dalam sambutannya pada Peluncuran dan Pelatihan "Pedoman Efisiensi Energi untuk Industri di Asia", di Jakarta, Selasa (7/2).



Pedoman Efisiensi Energi ini juga diharapkan Sekretaris Menristek, Hudi Hastowo, tidak hanya meningkatkan efisiensi penggunaan energi tapi harus pula mendorong penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan terutama penurunan emisi gas C02 yang berdampak buruk bagi lingkungan global.



Empat sektor industri Dikemukakan, Direktur Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Lingkungan Dr. Kardono, jika program ini diterapkan untuk empat sektor industri yang menyerap banyak energi seperti semen, pupuk, baja, pulp, dan kertas di Indonesia, maka diperkirakan penghematan bisa mencapai Rp 300 miliar per tahun.



Reduksi ini dicapai melalui pengiritan konsumsi batu bara, solar, dan gas alam sebagai bahan baku industri serta penggunaan listrik untuk proses produksi. Dan, bila semua industri di Indonesia dapat menempuh hal yang sama maka penghematan akan mencapai triliunan rupiah.



United Nations Environment Programme (UNEP) bekerja sama dengan SIDA (Swedish International Development Agency) melalui proyek "Reduksi emisi gas rumah kaca dari industri di Asia Pasifik" (Geriap) telah mengembangkan metode produksi bersih dan efisiensi energi.



Metode itu bertujuan peningkatan efisiensi energi perusahaan sehingga dapat menurunkan penggunaan energi dan biaya produksi, meningkatkan kualitas lingkungan dan menurunkan emisi gas rumah kaca, serta menurunkan risiko kenaikan harga kelangkaan energi.



Metode ini terfokus pada industri yang menggunakan bahan bakar secara intensif di negara berkembang di Asia. Dari 9 negara Asia dipilih lebih dari 40 perusahaan dari industri semen, kimia, keramik, besi, baja, pupuk, pulp, dan kertas untuk mengikuti program ini. Negara itu adalah Banglades, China, India, Indonesia, Mongolia, Filipina, Sri Lanka, Thailand, dan Vietnam.



Di Indonesia UNEP bekerja sama dengan BPPT dan Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup dan melibatkan enam industri untuk program tersebut. Penghematan dapat mencapai Rp 20 juta hingga Rp 14 miliar per tahunnya.



Pada salah satu industri semen telah dapat dilakukan penghematan listrik hingga 40 persen atau Rp 2,9 miliar lebih per tahun, sedangkan pada industri kertas penghematan dicapai untuk gas alam 106.199 ton per tahun atau hampir Rp 3,3 miliar per tahun.



Lebih lanjut diuraikan Masneliyarti penggunaan energi di Asia Pasifik antara tahun 1988 dan 1998 telah meningkat 47 persen, karena adanya pergeseran ekonomi dari pertanian ke industri.

Deskripsi Alternatif :

JAKARTA, KOMPAS - Program Produksi Bersih dan Efisiensi Energi yang telah dirintis sejak 2003 di enam industri di Indonesia telah menghasilkan penghematan energi signifikan hingga Rp 14 miliar per tahun.



Penurunan konsumsi energi terutama energi fosil akan menekan pula pencemaran gas rumah kaca. Karena itu program ini hendaknya dapat direplikasi pada industri lainnya, dan menjadi kriteria dalam memperoleh Proper Kategori Hijau.



Hal ini disampaikan Deputi Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup, Masneliyarti Hilman, dalam sambutannya pada Peluncuran dan Pelatihan "Pedoman Efisiensi Energi untuk Industri di Asia", di Jakarta, Selasa (7/2).



Pedoman Efisiensi Energi ini juga diharapkan Sekretaris Menristek, Hudi Hastowo, tidak hanya meningkatkan efisiensi penggunaan energi tapi harus pula mendorong penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan terutama penurunan emisi gas C02 yang berdampak buruk bagi lingkungan global.



Empat sektor industri Dikemukakan, Direktur Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Lingkungan Dr. Kardono, jika program ini diterapkan untuk empat sektor industri yang menyerap banyak energi seperti semen, pupuk, baja, pulp, dan kertas di Indonesia, maka diperkirakan penghematan bisa mencapai Rp 300 miliar per tahun.



Reduksi ini dicapai melalui pengiritan konsumsi batu bara, solar, dan gas alam sebagai bahan baku industri serta penggunaan listrik untuk proses produksi. Dan, bila semua industri di Indonesia dapat menempuh hal yang sama maka penghematan akan mencapai triliunan rupiah.



United Nations Environment Programme (UNEP) bekerja sama dengan SIDA (Swedish International Development Agency) melalui proyek "Reduksi emisi gas rumah kaca dari industri di Asia Pasifik" (Geriap) telah mengembangkan metode produksi bersih dan efisiensi energi.



Metode itu bertujuan peningkatan efisiensi energi perusahaan sehingga dapat menurunkan penggunaan energi dan biaya produksi, meningkatkan kualitas lingkungan dan menurunkan emisi gas rumah kaca, serta menurunkan risiko kenaikan harga kelangkaan energi.



Metode ini terfokus pada industri yang menggunakan bahan bakar secara intensif di negara berkembang di Asia. Dari 9 negara Asia dipilih lebih dari 40 perusahaan dari industri semen, kimia, keramik, besi, baja, pupuk, pulp, dan kertas untuk mengikuti program ini. Negara itu adalah Banglades, China, India, Indonesia, Mongolia, Filipina, Sri Lanka, Thailand, dan Vietnam.



Di Indonesia UNEP bekerja sama dengan BPPT dan Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup dan melibatkan enam industri untuk program tersebut. Penghematan dapat mencapai Rp 20 juta hingga Rp 14 miliar per tahunnya.



Pada salah satu industri semen telah dapat dilakukan penghematan listrik hingga 40 persen atau Rp 2,9 miliar lebih per tahun, sedangkan pada industri kertas penghematan dicapai untuk gas alam 106.199 ton per tahun atau hampir Rp 3,3 miliar per tahun.



Lebih lanjut diuraikan Masneliyarti penggunaan energi di Asia Pasifik antara tahun 1988 dan 1998 telah meningkat 47 persen, karena adanya pergeseran ekonomi dari pertanian ke industri.


Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTPPOLBAN
OrganisasiPOLBAN
Nama KontakHelmi Purwanti
AlamatJl. Trsn. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon022 201 3789 ext. 168, 169, 239
Fax022 201 3889
E-mail Administratorhelmi.purwanti@polban.ac.id
E-mail CKOhelmi.purwanti@polban.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Editor: