Path: Top > Electronics Clipping > BISNIS DAN EKONOMI

Menanti Kebangkitan Koppontren dari Jabar

BISNIS INDONESIA, Selasa, 2 Mei 2006, Hal T6
Clipping from JBPTPPOLBAN / 2013-12-16 13:46:07
Oleh : Hilman Hidayat, POLBAN
Dibuat : 2006-05-03, dengan 0 file

Keyword : koperasi, pondok pesantren

Sejak setahun terakhir pondok pesantren di Jabar sering dikunjungi pejabat. Tercatat beberapa kali Mennegkop dan UKM Suryadharma Ali membuka seminar, pelatihan, pengarahan dan kunjungan pejabat setempat juga makin getol memberi pelatihan di pondok pesantren. Bahkan Adi Sasono, Ketua Umum Dekopin minta Jabar sebagai model kebangkitan koperasi Indonesia, di antaranya melalui koperasi pondok pesantren (koppontren). Mengapa harus dari pondok pesantren?


Logika dan wacana yang berkembang dalam gerakan koperasi adalah pemulihan citra koperasi sebagai institusi yang korup pada masa lalu, koperasi sebagai pengemplang kredit.


Untuk memperbaiki citra sekaligus membangkitkan lagi koperasi, gerakan koperasi dan pemerintah Jabar mulai membangun kekuatan koppontren.
"Pondok pesantren punya kelebihan lain, misalnya pengaruh dan kredibilitas tinggi di masyarakat. Ponpres juga mulai mengajarkan ekonomi, selain nilai-nilai keagamaan," ujar Kepala Dinas KUKM Jabar Mustofa Djamaludin.


Di Jabar program kebangkitan koperasi melalui koppontren dikenal lewat program Santri Raksa Desa, yaitu mengoptimalkan pesantren sebagai lembaga pendidikan agama sekaligus pelatih di bidang ekonomi.


Pontren diharapkan membekali pengelola koperasi dengan nilai agama, seperti amanah dan jujur sehingga praktik manipulasi, kebohongan, serta aktivitas korupsi lain bisa diminimalkan.



Masalah sumber daya



Tapi apakah benar pengembangan koppontren bisa menjadi awal kebangkitan koperasi? Berdasarkan data Kota Bandung, dari 49 koppontren hanya empat di antaranya yang eksis secara ekonomi. Banyak masalah yang menyelimuti koppontren rupanya.


Wali Kota Bandung Dada Rosada mengatakan penyebab rendahnya eksistensi kopontren dalam percaturan usaha karena kurang sumber daya manusia unggul yang bisa menjalankan konsep ekonomi sekaligus akutansi perbankan.


Banyak pengelola koppontren yang selalu mengeluh kurang modal. Padahal banyak BUMN dan BUMD yang memiliki dana PKBL yang bisa dimanfaatkan. Ada sesuatu yang tak dipunyai koppontren, seperti masalah akuntabel.


Mennegkop Suryadharma Ali ketika berdialog dengan sejumlah ulama di Bandung menyebutkan koppontren berpotensi menjadi koperasi besar namun kerap terganjal ketiadaan sumber daya manusia andal dan profesional.


Berdasarkan penelitian Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi Unpad, populasi pontren di Jabar mencapai 4.882 unit, tapi hanya 1.440 pontren yang punya usaha dengan skala beragam, seperti di bidang agribisnis, perdagangan, industri dan jasa.



Pecahkan kebuntuan



Untuk memecahkan kebuntuan tersebut, Dinas Koperasi dan UKM Jabar dalam 2005-2006 menggelar pendidikan dan pelatihan bagi pengelola koppontren. Terakhir April 2006 sebanyak 50 pengurus pesantren di Sempur, Plered, Purwakarta.


Pendidikan dan pelatihan merupakan upaya memacu kemampuan sumber daya manusia agar memiliki nilai lebih dalam manajerial koperasi.


Sesepuh Pondok Pesantren Salafiyyah Al Falah Purwakana Jabar KH. Dadi, menekankan pentinganya pelatihan, sebab orientasi pesantren belakangan mendapat kepercayaan mendidik santrinya, selain agama juga ilmu lain yang mendukung kehidupan di masyarakat, seperti ekonomi dan koperasi.


Pendidikan dan pelatihan perkoperasian merupakan bentuk pembinaan bagi pesantren, namun yang terpenting aplikasi di lapangan setelah santri keluar dari pesantren.


Ketua Dekopin Provinsi Jawa Barat Wans Ibrahim menegaskan pelatihan bagi kopontren merupakan suatu langkah awal menguak potensi koppontren sebab sistem ekonomi syariah akan lebih cepat dimaknai dan dilaksanakan dengan melibatkan mereka. Diharapkan koperasi bangkit kembali melalui koppontren sekaligus memberikan dampak lebih luas melalui kesalehan sosial.***

Deskripsi Alternatif :

Sejak setahun terakhir pondok pesantren di Jabar sering dikunjungi pejabat. Tercatat beberapa kali Mennegkop dan UKM Suryadharma Ali membuka seminar, pelatihan, pengarahan dan kunjungan pejabat setempat juga makin getol memberi pelatihan di pondok pesantren. Bahkan Adi Sasono, Ketua Umum Dekopin minta Jabar sebagai model kebangkitan koperasi Indonesia, di antaranya melalui koperasi pondok pesantren (koppontren). Mengapa harus dari pondok pesantren?


Logika dan wacana yang berkembang dalam gerakan koperasi adalah pemulihan citra koperasi sebagai institusi yang korup pada masa lalu, koperasi sebagai pengemplang kredit.


Untuk memperbaiki citra sekaligus membangkitkan lagi koperasi, gerakan koperasi dan pemerintah Jabar mulai membangun kekuatan koppontren.
"Pondok pesantren punya kelebihan lain, misalnya pengaruh dan kredibilitas tinggi di masyarakat. Ponpres juga mulai mengajarkan ekonomi, selain nilai-nilai keagamaan," ujar Kepala Dinas KUKM Jabar Mustofa Djamaludin.


Di Jabar program kebangkitan koperasi melalui koppontren dikenal lewat program Santri Raksa Desa, yaitu mengoptimalkan pesantren sebagai lembaga pendidikan agama sekaligus pelatih di bidang ekonomi.


Pontren diharapkan membekali pengelola koperasi dengan nilai agama, seperti amanah dan jujur sehingga praktik manipulasi, kebohongan, serta aktivitas korupsi lain bisa diminimalkan.



Masalah sumber daya



Tapi apakah benar pengembangan koppontren bisa menjadi awal kebangkitan koperasi? Berdasarkan data Kota Bandung, dari 49 koppontren hanya empat di antaranya yang eksis secara ekonomi. Banyak masalah yang menyelimuti koppontren rupanya.


Wali Kota Bandung Dada Rosada mengatakan penyebab rendahnya eksistensi kopontren dalam percaturan usaha karena kurang sumber daya manusia unggul yang bisa menjalankan konsep ekonomi sekaligus akutansi perbankan.


Banyak pengelola koppontren yang selalu mengeluh kurang modal. Padahal banyak BUMN dan BUMD yang memiliki dana PKBL yang bisa dimanfaatkan. Ada sesuatu yang tak dipunyai koppontren, seperti masalah akuntabel.


Mennegkop Suryadharma Ali ketika berdialog dengan sejumlah ulama di Bandung menyebutkan koppontren berpotensi menjadi koperasi besar namun kerap terganjal ketiadaan sumber daya manusia andal dan profesional.


Berdasarkan penelitian Lembaga Manajemen Fakultas Ekonomi Unpad, populasi pontren di Jabar mencapai 4.882 unit, tapi hanya 1.440 pontren yang punya usaha dengan skala beragam, seperti di bidang agribisnis, perdagangan, industri dan jasa.



Pecahkan kebuntuan



Untuk memecahkan kebuntuan tersebut, Dinas Koperasi dan UKM Jabar dalam 2005-2006 menggelar pendidikan dan pelatihan bagi pengelola koppontren. Terakhir April 2006 sebanyak 50 pengurus pesantren di Sempur, Plered, Purwakarta.


Pendidikan dan pelatihan merupakan upaya memacu kemampuan sumber daya manusia agar memiliki nilai lebih dalam manajerial koperasi.


Sesepuh Pondok Pesantren Salafiyyah Al Falah Purwakana Jabar KH. Dadi, menekankan pentinganya pelatihan, sebab orientasi pesantren belakangan mendapat kepercayaan mendidik santrinya, selain agama juga ilmu lain yang mendukung kehidupan di masyarakat, seperti ekonomi dan koperasi.


Pendidikan dan pelatihan perkoperasian merupakan bentuk pembinaan bagi pesantren, namun yang terpenting aplikasi di lapangan setelah santri keluar dari pesantren.


Ketua Dekopin Provinsi Jawa Barat Wans Ibrahim menegaskan pelatihan bagi kopontren merupakan suatu langkah awal menguak potensi koppontren sebab sistem ekonomi syariah akan lebih cepat dimaknai dan dilaksanakan dengan melibatkan mereka. Diharapkan koperasi bangkit kembali melalui koppontren sekaligus memberikan dampak lebih luas melalui kesalehan sosial.***

Beri Komentar ?#(0) | Bookmark

PropertiNilai Properti
ID PublisherJBPTPPOLBAN
OrganisasiPOLBAN
Nama KontakErlin Arvelina
AlamatJl. Trsn. Gegerkalong Hilir Ds. Ciwaruga
KotaBandung
DaerahJawa Barat
NegaraIndonesia
Telepon022 201 3789 ext. 168, 169, 239
Fax022 201 3889
E-mail Administratorerlin.arvelina@polban.ac.id
E-mail CKOerlin.arvelina@polban.ac.id

Print ...

Kontributor...

  • Editor: